Memaknai Keberkahan Ramadan (11): Puasa Ajarkan Hidup Sederhana

Kamis, 06 April 2023 - 01:53 WIB
Hal-hal seperti ini seringkali bukan sekedar fenomena karakter biasa. Tapi telah menjadi penyakit mental (mental sickness) yang bahkan berpengaruh secara sosial. Seringkali saya melihat Ibu-Ibu membawa tas yang tidak perlu. Bahkan dua atau lebih dengan merek yang berbeda.

Kecenderungan berlebihan dan mewah bukan saja pada lifestyle. Tapi juga pada sisi kehidupan lainnya. Termasuk ketika seseorang diamanahi jabatan seringkali berlebihan dalam prilaku jabatan. Baru menjadi kepala desa sudah bergaya dan angkuh luar biasa. Padahal Presiden Amerika membawa kopinya sendiri ketika ada di jalan.

Saya teringat Michael Bloomberg yang kaya raya itu. Di saat menjabat Walikota New York hampir setiap hari naik Subway dari rumahnya di sekitar 78 Street and 5th Av. Di atas kereta beliau-biasa saja. Duduk jika dapat tempat duduk. Atau berdiri sebagaimana orang-orang lain di Kota New York jika tidak mendapatkan tempat duduk. Pengawalnya pun biasa-biasa saja. Tidak berlebihan dan sangar.

Sering juga terjadi ada orang yang baru diuji dengan kekayaan yang tidak seberapa atau kekuasaan yang segitu saja tapi berlagak seolah dunia dan langit ada dalam genggamannya. Saya menyebut perilaku ini dengan kegenitan mentalitas.

Puasa mengajarkan hidup sederhana. Bahwa dunia ini sebesar dan sehebat apapun tidak bisa memenuhi segala kecenderungan hawa nafsu dan keinginan manusia. Dunia punya keterbatasan (faniyah). Dan dunia bukan segala-galanya dalam hidup ini.

Puasa mengajarkan bahwa demi kehidupan yang lebih mulia justeru dunia dikesampingkan sementara. Seolah melatih manusia untuk melepaskan diri dari perbudakan dunia dan menjadi tuan untuk diri dan hidupnya. Semoga!

Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (10): Puasa Mengajarkan Pola Hidup Sehat
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!