Gebyar Nuzulul Qur'an, Kemenag Pamerkan 9 Mushaf Al-Qur'an Fenomenal untuk Mengedukasi Masyarakat
Rabu, 12 April 2023 - 05:48 WIB
Berukuran sebesar 53 cm x 68 cm, dengan ukuran teksnya 44 cm x 55 cm, mushaf ini ditulis di atas kulit binatang. Sementara jumlah lembarannya sekitar 378 halaman, dan terdapat beberapa halaman yang hilang. Penulisan teksnya pun menggunakan khat kufi tanpa tanda diakritik.
Pada halaman tertentu terdapat bekas bercak darah, yang membuktikan bahwa mushaf ini adalah milik khalifah Utsman yang terbunuh ketika membaca Al-Qur'an. Sekarang, mushaf ini tersimpan rapi di Tashkent, Uzbekistan.
Mushaf standar ini ditulis pertama kali oleh kaligrafer Ustaz Muhammad Syadzali Sa'ad, pada tahun 1973-1975. Kemudian ditulis kembali oleh Ustaz Baiquni Yasin beserta tim pada tahun 1999-2001, yang merupakan wakaf dari Yayasan Iman Jama' Jakarta melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI. Penggunaan mushaf ini pun diputuskan oleh Menteri Agama pada tahun 1984 untuk menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia".
Mushaf Al-Qur'an dalam huruf Arab Braille ini dimaksudkan untuk membantu para tunanetra belajar dan membaca Al-Qur'an. Pada awalnya penulisan Al-Qur'an Braille dipelopori oleh Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam Yogyakarta (1964) dan Badan Pembinaan Wiyata Guna Bandung (1974). Pada tahun 1977 Kemenag melahirkan Al-Qur'an Braille untuk seluruh Indonesia yang kemudian ditetapkan sebagai Mushaf Al-Qur'an Standar Braille Indonesia (1984).
Mushaf Al-Qur'an dengan pendekatan isyarat terdiri dari metode Kitabah dan Tilawah. Metode Kitabah adalah sistem isyarat berdasarkan tulisan atau Kitabah, yaitu mengisyaratkan setiap huruf, harakat, dan tanda baca yang tertulis dalam Mushaf Standar Indonesia.
Sementara metode Tilawah adalah mengeja per huruf serta harakat dan tanda bacanya melalui isyarat gerakan jari dan tangan yang sesuai dengan cara melafalkannya, dengan mengikuti hukum tilawah dan tajwid yang memungkinkan untuk diisyaratkan.
Mushaf-mushaf ini dipamerkan kepada masyarakat luas di Pameran 9 Mushaf Fenomenal yang digelar oleh Kemenag. Namun dua di antaranya, yakni Mushaf Terbesar dan Mushaf Pusaka berada di Bayt Al-Qur'an, lantaran supaya kondisinya tetap lestari dan terjaga.
Sejak beberapa tahun terakhir ini di Indonesia dan Malaysia ditemukan sejumlah Al-Qur'an yang dari segi tampilannya seakan-akan kuno, padahal jika diperhatikan dengan teliti akan tampak bahwa naskah tersebut adalah tulisan baru. Biasanya, Al-Qur'an tersebut ditulis di atas kertas samson coklat, dengan alat tulis spidol, dan bagian pinggir naskah dibiarkan tidak rapi. Selain dalam bentuk buku, Al-Qur'an Kuno-kunoan juga muncul dalam bentuk salinan di atas daun lontar. Dalam sejarah penyalinan Al-Qur'an di masa lalu, penggunaan daun lontar untuk menulis Al-Qur'an tidak lazim.
Pada halaman tertentu terdapat bekas bercak darah, yang membuktikan bahwa mushaf ini adalah milik khalifah Utsman yang terbunuh ketika membaca Al-Qur'an. Sekarang, mushaf ini tersimpan rapi di Tashkent, Uzbekistan.
6. Mushaf Paling Banyak Dicetak (Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia)
Mushaf standar ini ditulis pertama kali oleh kaligrafer Ustaz Muhammad Syadzali Sa'ad, pada tahun 1973-1975. Kemudian ditulis kembali oleh Ustaz Baiquni Yasin beserta tim pada tahun 1999-2001, yang merupakan wakaf dari Yayasan Iman Jama' Jakarta melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI. Penggunaan mushaf ini pun diputuskan oleh Menteri Agama pada tahun 1984 untuk menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia".
7. Mushaf Al-Qur'an Braille
Mushaf Al-Qur'an dalam huruf Arab Braille ini dimaksudkan untuk membantu para tunanetra belajar dan membaca Al-Qur'an. Pada awalnya penulisan Al-Qur'an Braille dipelopori oleh Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam Yogyakarta (1964) dan Badan Pembinaan Wiyata Guna Bandung (1974). Pada tahun 1977 Kemenag melahirkan Al-Qur'an Braille untuk seluruh Indonesia yang kemudian ditetapkan sebagai Mushaf Al-Qur'an Standar Braille Indonesia (1984).
8. Mushaf Al-Qur’an Isyarat
Mushaf Al-Qur'an dengan pendekatan isyarat terdiri dari metode Kitabah dan Tilawah. Metode Kitabah adalah sistem isyarat berdasarkan tulisan atau Kitabah, yaitu mengisyaratkan setiap huruf, harakat, dan tanda baca yang tertulis dalam Mushaf Standar Indonesia.
Sementara metode Tilawah adalah mengeja per huruf serta harakat dan tanda bacanya melalui isyarat gerakan jari dan tangan yang sesuai dengan cara melafalkannya, dengan mengikuti hukum tilawah dan tajwid yang memungkinkan untuk diisyaratkan.
Mushaf-mushaf ini dipamerkan kepada masyarakat luas di Pameran 9 Mushaf Fenomenal yang digelar oleh Kemenag. Namun dua di antaranya, yakni Mushaf Terbesar dan Mushaf Pusaka berada di Bayt Al-Qur'an, lantaran supaya kondisinya tetap lestari dan terjaga.
9. Mushaf Al-Qur’an Kuno-kunoan
Sejak beberapa tahun terakhir ini di Indonesia dan Malaysia ditemukan sejumlah Al-Qur'an yang dari segi tampilannya seakan-akan kuno, padahal jika diperhatikan dengan teliti akan tampak bahwa naskah tersebut adalah tulisan baru. Biasanya, Al-Qur'an tersebut ditulis di atas kertas samson coklat, dengan alat tulis spidol, dan bagian pinggir naskah dibiarkan tidak rapi. Selain dalam bentuk buku, Al-Qur'an Kuno-kunoan juga muncul dalam bentuk salinan di atas daun lontar. Dalam sejarah penyalinan Al-Qur'an di masa lalu, penggunaan daun lontar untuk menulis Al-Qur'an tidak lazim.
(mpw)
Lihat Juga :