Memaknai Keberkahan Ramadan (14): Puasa Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang dan Solidaritas
Minggu, 16 April 2023 - 05:15 WIB
Kasih sayang itu bukan sekadar cinta. Cinta dikenal dengan "mawaddah" atau "hubbun" dalam bahasa Al-Qur'an. Cinta hanyalah sekadar kecenderungan hati dan karena ada alasan. Walaupun Allah juga punya sifat mencintai (Al-Wadud). Tapi lebih jauh Allah memang memiliki sifat kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya.
Maka cinta dan kasih sayang atau "Mawaddah wa Rahmah" adalah dua yang sama tapi beda. Rahmah adalah ekspresi cinta yang tidak lagi didasari oleh sesuatu apapun. Tapi satu kesatuan dalam eksistensi Allah SWT.
Itulah alasannya kenapa Rasulullah SAW lebih dikenal dengan "Rahmah" seperti dalam Al-Qur'an "Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai Rahmah bagi alam semesta." Karena kasih beliau bukan lagi karena dorongan sesuatu atau karena alasan apapun. Kasih sayang itu memang menjadi bagian integral dari hidup beliau.
Saya tidak bermaksud membahas tentang Rahmah dalam catatan kali ini. Saya hanya ingin secara singkat membahas tentang relasi antara puasa dan kasih sayang. Bulan yang memang juga dikenal sebagai bulan kasih sayang (Syahrur Rohmah).
Dengan mengesampingkan sementara makan, minum dan kesenangan duniawi, dominasi tendensi egoistik manusia akan berkurang. Sehingga kecenderungan rasa batin semakin tajam. Rasa batin inilah yang tumbuh menjadi sifat kasih sayangnya.
Ketika berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga, yang pastinya melahirkan rasa simpati dan empati kepada mereka yang memang tidak berpunya. Jutaan manusia yang tidak bisa memenuhi bahkan kebutuhan pokok; makan, minum dan tempat tinggal.
Di sinilah nilai keberkahan puasa hadir. Membangun rasa kasih sayang dan solidaritas kepada mereka yang tidak berpunya (the have nots). Rasa inilah yang akan mendorong terlahirnya motivasi kebaikan (Ihsan) dan karakter dermawan (generosity) kepada sesama. Dua keberkahan yang akan kita bahas pada catatan selanjutnya. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (13): Puasa Ajarkan Kejujuran pada Diri Sendiri
Maka cinta dan kasih sayang atau "Mawaddah wa Rahmah" adalah dua yang sama tapi beda. Rahmah adalah ekspresi cinta yang tidak lagi didasari oleh sesuatu apapun. Tapi satu kesatuan dalam eksistensi Allah SWT.
Itulah alasannya kenapa Rasulullah SAW lebih dikenal dengan "Rahmah" seperti dalam Al-Qur'an "Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai Rahmah bagi alam semesta." Karena kasih beliau bukan lagi karena dorongan sesuatu atau karena alasan apapun. Kasih sayang itu memang menjadi bagian integral dari hidup beliau.
Saya tidak bermaksud membahas tentang Rahmah dalam catatan kali ini. Saya hanya ingin secara singkat membahas tentang relasi antara puasa dan kasih sayang. Bulan yang memang juga dikenal sebagai bulan kasih sayang (Syahrur Rohmah).
Dengan mengesampingkan sementara makan, minum dan kesenangan duniawi, dominasi tendensi egoistik manusia akan berkurang. Sehingga kecenderungan rasa batin semakin tajam. Rasa batin inilah yang tumbuh menjadi sifat kasih sayangnya.
Ketika berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga, yang pastinya melahirkan rasa simpati dan empati kepada mereka yang memang tidak berpunya. Jutaan manusia yang tidak bisa memenuhi bahkan kebutuhan pokok; makan, minum dan tempat tinggal.
Di sinilah nilai keberkahan puasa hadir. Membangun rasa kasih sayang dan solidaritas kepada mereka yang tidak berpunya (the have nots). Rasa inilah yang akan mendorong terlahirnya motivasi kebaikan (Ihsan) dan karakter dermawan (generosity) kepada sesama. Dua keberkahan yang akan kita bahas pada catatan selanjutnya. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (13): Puasa Ajarkan Kejujuran pada Diri Sendiri
(rhs)
Lihat Juga :