Pribadi Mulia: Mereka Mementingkan Orang Lain Ketimbang Dirinya Sendiri
Senin, 17 April 2023 - 05:15 WIB
Saat Rasulullah SAW memutuskan untuk melakukan hijrah dari rumah beliau yang telah dikepung oleh kaum Musyrikin dan mereka berniat untuk membunuh beliau, tempat tidur beliau digantikan oleh anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib ra . Ia memilih untuk menjadi korban bagi Rasulullah SAW, dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup menghadapi pedang-pedang kalangan Musyrikin yang siap memotong tubuhnya dan menghilangkan nyawanya. Dengan begitu, ia telah rela mengorbankan dirinya bagi Rasulullah SAW pembawa hidayah bagi seluruh umat manusia.
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
Kisah Umar bin Khattab
Saat manusia mengalami derita kelaparan dan kekeringan pada masa Umar bin Khattab ra , Umar hanya sempat tidur sekejap dan hanya dapat beristirahat sebentar. Seluruh perhatiannya ditujukan untuk menghilangkan bencana kelaparan itu dari rakyatnya.
Usahanya itu terus membebaninya, sehingga tubuhnya berubah menjadi hitam, dan melemah. Sehingga orang yang melihat dirinya seperti itu ada yang berkata: "Seandainya bencana kelaparan ini terus berlangsung beberapa bulan lagi, niscaya Umar bisa mati karena sedih dan menderita melihat penderitaan rakyatnya".
Suatu hari datang kafilah pembawa barang dari Mesir yang membawa daging, minyak samin, makanan, dan bahan pakaian, kemudian ia membagi-bagikan semua itu sendiri kepada masyarakat, dan tidak mau sedikitpun mengambil bagian.
Ia kemudian berkata kepada kepala rombongan kafilah: "Aku mengundangmu untuk makan dirumahku nanti". Si kepala kafilah langsung membayangkan makanan yang lezat-lezat. Karena ia menyangka bahwa makanan yang dikonsumsi oleh Amirul Mu'minin tentunya lebih baik dan lebih lezat dari makanan rakyat biasa. Maka dengan semangat ia datang ke rumah Umar, sambil menahan lapar, haus dan rasa capai.
Di sana, Umar segera menyiapkan makanan baginya. Namun yang membuat sang tamu tercengang adalah ternyata makanan yang dikonsumsi oleh Amirul Mu'minin bukanlah makanan yang berupa daging, minyak saming, daging bakar maupun manis-manisan. Makanannya ternyata tak lebih dari potongan-potongan roti hitam yang kering, dengan berlauk sepiring minyak.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Hal itu membuat sang tamu amat terkejut, maka ia segera bertanya kepada Umar: "Mengapa engkau melarangku untuk makan bersama orang lain berupa makanan dari daging dan minyak samin, malah engkau menghidangkan kepadaku makanan yang sama sekali tidak layak dikonsumsi ini?"
Umar menjawab: "Aku hanya memberikan makanan kepadamu dengan makanan yang biasa aku konsumsi".
Mereka kembali bertanya: "Apa yang menghalangimu untuk memakan makanan yang sama dikonsumsi oleh masyarakat, padahal engkau sendiri yang telah membagi-bagikan daging kepada masyarakat?"
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
Kisah Umar bin Khattab
Saat manusia mengalami derita kelaparan dan kekeringan pada masa Umar bin Khattab ra , Umar hanya sempat tidur sekejap dan hanya dapat beristirahat sebentar. Seluruh perhatiannya ditujukan untuk menghilangkan bencana kelaparan itu dari rakyatnya.
Usahanya itu terus membebaninya, sehingga tubuhnya berubah menjadi hitam, dan melemah. Sehingga orang yang melihat dirinya seperti itu ada yang berkata: "Seandainya bencana kelaparan ini terus berlangsung beberapa bulan lagi, niscaya Umar bisa mati karena sedih dan menderita melihat penderitaan rakyatnya".
Suatu hari datang kafilah pembawa barang dari Mesir yang membawa daging, minyak samin, makanan, dan bahan pakaian, kemudian ia membagi-bagikan semua itu sendiri kepada masyarakat, dan tidak mau sedikitpun mengambil bagian.
Ia kemudian berkata kepada kepala rombongan kafilah: "Aku mengundangmu untuk makan dirumahku nanti". Si kepala kafilah langsung membayangkan makanan yang lezat-lezat. Karena ia menyangka bahwa makanan yang dikonsumsi oleh Amirul Mu'minin tentunya lebih baik dan lebih lezat dari makanan rakyat biasa. Maka dengan semangat ia datang ke rumah Umar, sambil menahan lapar, haus dan rasa capai.
Di sana, Umar segera menyiapkan makanan baginya. Namun yang membuat sang tamu tercengang adalah ternyata makanan yang dikonsumsi oleh Amirul Mu'minin bukanlah makanan yang berupa daging, minyak saming, daging bakar maupun manis-manisan. Makanannya ternyata tak lebih dari potongan-potongan roti hitam yang kering, dengan berlauk sepiring minyak.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Hal itu membuat sang tamu amat terkejut, maka ia segera bertanya kepada Umar: "Mengapa engkau melarangku untuk makan bersama orang lain berupa makanan dari daging dan minyak samin, malah engkau menghidangkan kepadaku makanan yang sama sekali tidak layak dikonsumsi ini?"
Umar menjawab: "Aku hanya memberikan makanan kepadamu dengan makanan yang biasa aku konsumsi".
Mereka kembali bertanya: "Apa yang menghalangimu untuk memakan makanan yang sama dikonsumsi oleh masyarakat, padahal engkau sendiri yang telah membagi-bagikan daging kepada masyarakat?"
Lihat Juga :