alexametrics

Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak

loading...
Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Sayyidina Umar bin Khattab adalah khalifah yang kepemimpinannya tak tertandingi. Kejayaan Islam dan kesejahteraan ekonomi rakyat terwujud di masa pemerintahannya. Foto/tangkapan layar film serial Umar
Ustaz DR Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an

Sebelum matahari terbit hari Rabu tanggal 4 Zulhijah tahun ke-23 Hijriyyah, Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu keluar dari rumahnya hendak mengimami salat Subuh. Beliau menunjuk beberapa orang di masjid agar mengatur saf sebelum salat.

Jika barisan mereka sudah rata dan teratur, beliau datang dan melihat saf pertama. Kalau ada orang yang berdiri lebih maju atau mundur, diaturnya dengan tongkatnya. Jika semua sudah teratur di tempat masing-masing, mulai ia bertakbir untuk salat.(Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab, Khalifah Kedua yang Ditakuti Setan)




Hari itu tanda-tanda fajar sudah mulai tampak. Baru saja beliau memulai niat salat hendak bertakbir, tiba-tiba muncul seorang laki-laki di depannya berhadap-hadapan. Laki-laki itu langsung menikam tubuh sang Khalifah dengan Khanjar tiga atau enam kali yang sekali-kali mengenai bawah pusarnya.

Laki-laki pembunuh sang khalifah sebelumnya bersembunyi di bawah pakaiannya dengan menggenggam bagian tengah Khanjar bermata dua yang tajam. Ia bersembunyi di salah satu sudut masjid. Begitu salat dimulai ia langsung bertindak. Sesudah itu, ia menyeruak lari hendak menyelamatkan diri.

Khalifah Umar merasakan panasnya senjata itu dalam dirinya, ia menoleh kepada jamaah yang lain dan membentangkan tangannya seraya berkata, "Kejarlah anjing itu, dia telah membunuhku!" (Baca Juga: Ketika Umar Bin Khattab Membebaskan Palestina)

Anjing yang dimaksud khalifah Umar ialah Abu Lu'luah Fairuz, seorang budak Mughirah. Dia orang Persia yang tertawan di Nahawand yang kemudian menjadi budak al-Mughirah bin Syu'bah. Kedatangannya ke masjid itu sengaja hendak membunuh Khalifah Umar di pagi buta itu.

Orang-orang gempar dan kacau, gelisah mendengar hal itu. Orang banyak datang hendak menangkap dan menghajar laki-laki itu. Tetapi, Abu Lu'luah tidak memberikan kesempatan menangkapnya.

Malah ia menikam ke kanan dan ke kiri hingga ada dua belas orang yang terkena tikamannya. Ada yang mengatakan ada enam orang yang meninggal akibat tikaman itu, ada pula sumber lainnya menyebutkan ada sembilan orang.

Yakin dirinya juga pasti akan dibunuh, Fairuz Abu Lu'luah pun, pada akhirnya menikamkan Khanjar yang dipegang di tangannya ke perutnya sendiri. Pembunuh Umar itu pun terkapar menggelapar bunuh diri dengan senjata yang ia pergunakan untuk menikam Khalifah Amirul Mukminin itu.

Tikaman yang mengenai bawah pusar Khalifah Umar telah memutuskan lapisan kulit bagian dalam dan usus lambung yang dapat mematikan. Konon, Umar bin Khattab tidak dapat berdiri, karena rasa perihnya tikaman itu, dan lalu terhempas jatuh ke lantai.

Abdurrahman bin Auf segera maju menggantikan mengimami salat Subuh. Ia meneruskan salat itu dengan membaca dua surah terpendek dalam Al-Qur'an, yaitu surah Al-Asr dan Al-Kautsar.(Baca Juga: Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Masuk Islam)

Amirul Mukminin itu kemudian langsung dibawa ke rumahnya di dekat masjid. Orang ramai tetap kacau dan hiruk dan pikuk. Khalifah Umar dalam keadaan pingsan, karena dahsyatnya tikaman itu.

Amirul Mukminin tergeletak bercucuran darah di depan mereka, dan darah orang-orang yang juga terkena tikaman itu bergelimang di depan mereka. Dan pembunuh itu juga sedang berada dalam kondisi sakaratul maut.

Demikian tragedi berdarah dalam sejarah kelam fitnah itu dipaparkan oleh Muhammad Husien Haikal secara dramatikal di dalam Kitab "Umar Al-Farouq".

Pagi itu, suasana gempar dan kacau. Orang-orang yang baru terbangun dari tidurnya pun berusaha mencari kabar tentang peristiwa yang baru terjadi. Keadaan menjadi sangat menegangkan.

Orang-orang yang menjadi korban akibat tikaman Abu Lu'luah dibawa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagian ada yang telah meninggal dunia, sebagian lagi masih mengerang-ngerang kesakitan, akibat perihnya perut mereka yang terluka oleh sayatan tajam senjata si pembunuh Umar itu.

Di rumahnya, Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar terus membanjiri kain balutan yang mengikat di perutnya. Tak henti-hentinya mengucur derasnya.

Ibnu Abbas memasuki rumah Amirul Mukminin. Ia masih melihat Umar bin Khattab tergeletak di atas kasurnya tak sadarkan diri. Keluarga sudah memanggil tabib untuk datang mengobati. Abdullah bin Umar memanggil seorang tabib dari kaum Anshar dan seorang lagi tabib dari kalangan Bani Umawiyyah.

Tak berapa lama, tabib pun datang memberikan pengobatan. Umar tersadar dari pingsannya. Ia bertanya, "Apakah kaum muslimin sudah melaksanakan salat?" Mereka menjawab, "Sudah!"

Kemudian, sang tabib meminumkan susu padanya. Susu yang diminumkan itu pun pada akhirnya keluar putih dari perutnya. Tak ada harapan, kondisi sahabat yang dicintai Rasulullah SAWitu akan membaik. Lantas Ibn Abbas berkata pada Umar bin Khattab:

"Wahai Amirul Mukminin, berwasiatlah!"

Semua orang yang hadir pun menangis. Umar bin Khattab berkata, "Jangan menangisi kami. Barangsiapa yang mau menangis, keluarlah! Tidakkah kalian mendengar kata Rasulullah SAW, "Mayat akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya!"

Jika kita telusuri sekilas kisah singkat sebelum terjadinya tragedi itu. Menurut Imam at-Thabari dan Ibn al-Atsir menceritakan, bahwa sebelum wafatnya Umar bin Khattab, setelah beliau melaksanakan ibadah haji, Umar bin Khattab berjalan-jalan berkeliling di pasar.

Ketika itu, beliau bertemu dengan seorang budak bernama Abu Lu'luah yang kelak akan menjadi pembunuh beliau. Abu Lu'luah menemuinya dan berkata kepadanya:

"Wahai Amirul Mukminin, bicarakan soal saya dengan majikan saya al-Mughirah bin Syu'bah, sebab pajakyang ia kenakan pada saya terlalu tinggi.

"Berapa pajak yang ia kenakan pada Anda?!" tanya Khalifah Umar.

"Dua dirham setiap hari!" jawabnya.

"Pekerjaan Anda apa?!" tanya Umar lagi.

"Tukang kayu, pemahat dan pandai besi!" jawabnya.

"Pajak itu menurut saya tidak banyak!" jawab Umar. "Saya dengar kamu mengatakan jika saya mau saya bisa buatkan penggilangan dari tenaga angin?"

"Ya!" jawabnya!

"Buatkan saya satu!" kata Umar.

"Jika saya bisa diselamatkan, maka saya akan buatkan sebuah penggilangan yang akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di Timur dan di Barat!" Kemudian, Abu Lu'luah meninggalkan Umar bin Khattab. Umar mengatakan, "Orang itu telah mengancamku!"

Jika kita telusuri sekilas kisah di atas, kita akan dapati bahwa salah satu penyebab tragedi pembunuhan Khalifah Amirul Mukminin dilandasi dendam kesumat dari seorang budak Persia atas persoalan pajak.(Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan Naik, Pemerintah Permainkan Hukum dan Rakyat)

Di sini kita melihat bahwa peran Sayyidina Umar bin Khattab sebenarnya tidak terlalu signifikan dalam kasus ini. Sebagai seorang pemimpin yang terkenal dengan keadilan dan ketegasannya, Khalifah Umar menolak membicarakan soal pajak yang dibebankan oleh seorang majikan terhadap budaknya. Sebab, tarif pajak itu memang hal yang masih wajar dalam pandangan Umar.

Dalam konteks kekinian, protes kaum buruh/karyawan atau rakyat kecil terhadap kebijakan pejabat negara yang menaikkan pajak tentu dinilai hal yang wajar mengingat beban rakyat dan ekonomi yang semakin sulit. Rakyat tentu berharap kepada pemimpin di Tanah Air agar tidak menaikkan tarif pajak, harga minyak, iuran asuransi kesehatan di tengah beratnya beban rakyat saat ini.

Tidak ada yang mengira, SayyidinaUmar bin Khattab yang kepemimpinannya tak tertandingi, kesejahteraan ekonomi terwujud di masa pemerintahannya, dibunuh oleh rasa sakit hati seorang budak rakyat kecil lantaran persoalan pajak yang dirasanya membebani hidupnya. Na'uzubillahi min dzalik. Sayyidina Umar wafat dalam keadaan syahid. Kepemimpinannya yang adil dan bijaksana dikenangsepanjang masa.Jasad beliau dimakamkan di samping jasad mulia Baginda Rasulullah SAW bersama sahabat Abu Bakar di area Masjid Nabawi Madinah. (Baca Juga: Biografi Umar Bin Khattab, Khalifah Kedua yang Menaklukkan Romawi dan Persia)
(rhs)
KOMENTAR
loading gif
cover top ayah
قٰلَ اِنۡ لَّبِثۡـتُمۡ اِلَّا قَلِيۡلًا لَّوۡ اَنَّكُمۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.”

(QS. Al-Mu’minun:114)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak