Buya Hamka : Puncak Cinta Tertinggi Seorang Muslim adalah Allah Ta'ala
Rabu, 26 April 2023 - 12:46 WIB
Menurut Buya Hamka puncak cinta seorang muslim terkumpul pada satu titik, yaitu Allah Subhanahu wa Taala. Foto ilustrasi/istimewa
Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang populer dengan nama penanya Hamka atau Buya Hamka adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia.Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dikenal pula sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah ini pernah mengatakan bahwa puncak tertinggi dari pandangan hidup seorang muslim adalah cinta. Puncak cinta seorang muslim terkumpul pada satu titik, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam bukunya yang berjudul 'Renungan Tasawuf', Buya Hamka mengatakan, umat Islam itu selain mengikuti apa yang diperintahkan dan menghentikan apa yang dilarang Allah Ta'ala, maka ia akan memenuhi hatinya dengan cinta kepada Allah karena ingin dimasukkan ke surga dan takut dibenamkan ke dalam neraka.
Baca juga: 7 Ayat Cinta Dalam Al-Qur'an, Nomor 6 untuk Mencari Pasangan
Pembuktian bahwa seorang hamba cinta pada Allah adalah mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran : 31)
Supaya hubungan mesra di antara insan sebagai hamba dengan Allah sebagai Rabbul 'alamin (Tuhan penguasa alam), maka Allah mengutus rasul-Nya Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam menjadi petunjuk jalan agar manusia mendapat cinta-Nya.
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Tidak beriman seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintai daripada anak, ayah, dan sekalian manusia sekali pun,". (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam pertumbuhan rasa cinta itu, kian hilanglah kepentingan diri sendiri. Terkubur dan terkurbanlah kepentingan diri sendiri ke dalam kepentingan yang lebih besar, yaitu melaksanakan kehendak Allah dengan penuh kasih dan sayang. Lurusnya rasa cinta kepada Allah ini, karena kita dipandu di depan ada yang kita ikuti jejaknya, yaitu Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Dan kita tidak akan mengikuti beliau Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, kalau kita tidak sayang dan tidak cinta.
Iman dan cinta kepada Allah Ta'ala akan tidak ada artinya kalau tidak tertumpah dan tidak tercurah kepada kepada Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Selain itu, wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita mencintai seluruh alam sebagai ciptaan-Nya. Cinta kepada bumi tempat para nabi menyampaikan risalah-Nya.
Dalam bukunya yang berjudul 'Renungan Tasawuf', Buya Hamka mengatakan, umat Islam itu selain mengikuti apa yang diperintahkan dan menghentikan apa yang dilarang Allah Ta'ala, maka ia akan memenuhi hatinya dengan cinta kepada Allah karena ingin dimasukkan ke surga dan takut dibenamkan ke dalam neraka.
Baca juga: 7 Ayat Cinta Dalam Al-Qur'an, Nomor 6 untuk Mencari Pasangan
Pembuktian bahwa seorang hamba cinta pada Allah adalah mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran : 31)
Supaya hubungan mesra di antara insan sebagai hamba dengan Allah sebagai Rabbul 'alamin (Tuhan penguasa alam), maka Allah mengutus rasul-Nya Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam menjadi petunjuk jalan agar manusia mendapat cinta-Nya.
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Tidak beriman seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintai daripada anak, ayah, dan sekalian manusia sekali pun,". (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam pertumbuhan rasa cinta itu, kian hilanglah kepentingan diri sendiri. Terkubur dan terkurbanlah kepentingan diri sendiri ke dalam kepentingan yang lebih besar, yaitu melaksanakan kehendak Allah dengan penuh kasih dan sayang. Lurusnya rasa cinta kepada Allah ini, karena kita dipandu di depan ada yang kita ikuti jejaknya, yaitu Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Dan kita tidak akan mengikuti beliau Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, kalau kita tidak sayang dan tidak cinta.
Iman dan cinta kepada Allah Ta'ala akan tidak ada artinya kalau tidak tertumpah dan tidak tercurah kepada kepada Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Selain itu, wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita mencintai seluruh alam sebagai ciptaan-Nya. Cinta kepada bumi tempat para nabi menyampaikan risalah-Nya.
Lihat Juga :