Pahala Amal Saleh Bisa Terhapus, Apa Penyebabnya?
Kamis, 23 Juli 2020 - 06:00 WIB
Ampunan dosa merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada semua hamba-Nya. Foto ilustrasi/ist
Seorang hamba perlu khawatir karena bisa saja amal saleh yang telah dilakukannya dengan susah payah terhapus oleh berbagai sebab. Jika amal saleh terhapus maka menjadi musibah besar baginya. Sudah menjadi jumhur ulama bahwa amal saleh yang dilakukan seseorang mempunyai kemungkinan untuk terhapus jika tidak hati-hati menjaga diri dari dosa.
Allah Ta'ala berfirman :
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Jika kamu (Muhammad) berbuat syirik, sungguh akan terhapus semua amalmu dan sungguh kamu akan menjadi orang rugi. (QS. az-Zumar: 65).
Sementara perbuatan dosa besar maupun dosa kecil – selain kekufuran dan murtad – dosa semacam ini tidak menghapus seluruh amal, juga tidak menghalangi diterimanya amal saleh . Namun bisa saja menghapus sebagian amal, sesuai tingkatan nilai dosa. Kelak akan ditimbang. Jika amal baiknya lebih dominan dibandingkan dosanya, maka dia berhak mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika dosanya lebih berat dibandingkan amal baiknya, maka dia berhak mendapatkan hukuman. (Baca juga : Amalan Baik di Bulan Dzulhijjah yang Pahalanya Dilipatgandakan )
Dalam Hadis Bukhari, dari Qutaibah, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyebutkan ayat :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (QS. Al An’am: 82). Ketika disebutkan ayat ini, para sahabat pun menjadi khawatir. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan?" Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنه ليس بذاك، ألا تسمع إلى قول لقمان: { يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Itu bukanlah kezholiman seperti yang kalian sangkakan. Tidakkah kalian pernah mendengar nasehat Lukman pada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa kesyirikan adalah penghapus amal saleh. Hal ini berlaku sejak dahulu, yaitu para Nabi dan Rasul terdahulu. As Sa’di rahimahullah menjelaskan, jika kamu berbuat syirik , niscaya akan terhapuslah amalmu. Ini mencakup semua amalan, yaitu bahwa perbuatan syirik itu menghapus semua amalan. Orang yang terhapus amalnya maka tentu termasuk orang-orang yang merugi, maksudnya rugi dunia dan akhirat. Maka, dengan kesyirikan, terhapuslah semua amalan . Dan pelakunya berhak mendapatkan hukuman dan azab."
Sehingga, tidaklah cukup seseorang hanya mengenal tauhid dan mengamalkannya. Pengetahuan tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik pun mutlak diperlukan agar seseorang tidak terjerumus ke dalamnya. Sayangnya, banyak orang tidak memahami hakikat kesyirikan dan betapa dahsyat bahayanya sehingga mereka pun meremehkannya.
Allah Ta'ala berfirman :
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Jika kamu (Muhammad) berbuat syirik, sungguh akan terhapus semua amalmu dan sungguh kamu akan menjadi orang rugi. (QS. az-Zumar: 65).
Sementara perbuatan dosa besar maupun dosa kecil – selain kekufuran dan murtad – dosa semacam ini tidak menghapus seluruh amal, juga tidak menghalangi diterimanya amal saleh . Namun bisa saja menghapus sebagian amal, sesuai tingkatan nilai dosa. Kelak akan ditimbang. Jika amal baiknya lebih dominan dibandingkan dosanya, maka dia berhak mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika dosanya lebih berat dibandingkan amal baiknya, maka dia berhak mendapatkan hukuman. (Baca juga : Amalan Baik di Bulan Dzulhijjah yang Pahalanya Dilipatgandakan )
Dalam Hadis Bukhari, dari Qutaibah, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyebutkan ayat :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (QS. Al An’am: 82). Ketika disebutkan ayat ini, para sahabat pun menjadi khawatir. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan?" Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنه ليس بذاك، ألا تسمع إلى قول لقمان: { يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Itu bukanlah kezholiman seperti yang kalian sangkakan. Tidakkah kalian pernah mendengar nasehat Lukman pada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa kesyirikan adalah penghapus amal saleh. Hal ini berlaku sejak dahulu, yaitu para Nabi dan Rasul terdahulu. As Sa’di rahimahullah menjelaskan, jika kamu berbuat syirik , niscaya akan terhapuslah amalmu. Ini mencakup semua amalan, yaitu bahwa perbuatan syirik itu menghapus semua amalan. Orang yang terhapus amalnya maka tentu termasuk orang-orang yang merugi, maksudnya rugi dunia dan akhirat. Maka, dengan kesyirikan, terhapuslah semua amalan . Dan pelakunya berhak mendapatkan hukuman dan azab."
Sehingga, tidaklah cukup seseorang hanya mengenal tauhid dan mengamalkannya. Pengetahuan tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik pun mutlak diperlukan agar seseorang tidak terjerumus ke dalamnya. Sayangnya, banyak orang tidak memahami hakikat kesyirikan dan betapa dahsyat bahayanya sehingga mereka pun meremehkannya.
Lihat Juga :