Pentingnya Kalkulasi Perjalanan Hidup Manusia
Minggu, 06 Agustus 2023 - 22:33 WIB
Imam Shamsi Ali, Dai yang juga Presiden Nusantara Foundation USA. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Mungkin saja ada yang salah paham. Seolah yang saya maksud menghitung-hitung (kalkulasi) kehidupan sama dengan kritikan Al-Qur'an yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Iya ini tentunya realita.
Begitu banyak manusia yang kecenderungan hidupnya hanyalah jama'a maalan (mengakumulasi kekayaan) dan addadah (menghitung-hitungnya). Selain realita di atas, ada lagi satu peringatan penting tentang kalkulasi dan menghitung-hitung ini yang manusia harus ingat.
Itulah yang diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: "Orang bijak (berakal) itu adalah yang selalu melakukan kalkulasi pada dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya."
Jika pada ayat Al-Qur'an dipakai kata "addada". Dari kata 'adad atau bilangan, pada hadits ini yang terpakai adalah kata "daana" atau melakukan kalkulasi yang dilandasi oleh kesadaran tanggung jawab. "Daana" yang menghasilkan kata "Diin" dimaknai sebagai perhitungan dengan pertimbangan penuh akan tanggung jawab. Makanya hari pertanggung jawaban (yaumul hisaab) juga dinamai, salah satunya dengan "Yaum ad-diin."
Merujuk kepada makna kalkulasi pada Hadis ini tentu banyak yang harus menjadi konsideran manusia. Salah satu di antaranya adalah perjalanan waktu dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif Islam waktu adalah kehidupan.
Dengan demikian perjalanan waktu atau berlalunya waktu juga dimaknai sebagai perjalanan dan berlalunya kehidupan. Setiap saat yang berjalan dan berlalu sekaligus bermakna jatah kehidupan yang berjalan dan berlalu.
Pada titik inilah sesungguhnya yang harus menjadi perhatian serius setiap orang. Jatah hidup kita telah pasti dan telah ditentukan (alladzi khalaqa fasawwa walladzi qaddara fahadaa). Secara umum manusia memiliki jatah yang berbeda-beda. Ada yang lama (panjang umur). Ada pula yang sebentar (berumur pendek). Panjang atau pendeknya umur manusia itu yang disebut ajal. Dan ajal ini memang telah ditentukan (ajalan musammaa).
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation USA
Mungkin saja ada yang salah paham. Seolah yang saya maksud menghitung-hitung (kalkulasi) kehidupan sama dengan kritikan Al-Qur'an yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Iya ini tentunya realita.
Begitu banyak manusia yang kecenderungan hidupnya hanyalah jama'a maalan (mengakumulasi kekayaan) dan addadah (menghitung-hitungnya). Selain realita di atas, ada lagi satu peringatan penting tentang kalkulasi dan menghitung-hitung ini yang manusia harus ingat.
Itulah yang diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: "Orang bijak (berakal) itu adalah yang selalu melakukan kalkulasi pada dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematiannya."
Jika pada ayat Al-Qur'an dipakai kata "addada". Dari kata 'adad atau bilangan, pada hadits ini yang terpakai adalah kata "daana" atau melakukan kalkulasi yang dilandasi oleh kesadaran tanggung jawab. "Daana" yang menghasilkan kata "Diin" dimaknai sebagai perhitungan dengan pertimbangan penuh akan tanggung jawab. Makanya hari pertanggung jawaban (yaumul hisaab) juga dinamai, salah satunya dengan "Yaum ad-diin."
Merujuk kepada makna kalkulasi pada Hadis ini tentu banyak yang harus menjadi konsideran manusia. Salah satu di antaranya adalah perjalanan waktu dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif Islam waktu adalah kehidupan.
Dengan demikian perjalanan waktu atau berlalunya waktu juga dimaknai sebagai perjalanan dan berlalunya kehidupan. Setiap saat yang berjalan dan berlalu sekaligus bermakna jatah kehidupan yang berjalan dan berlalu.
Pada titik inilah sesungguhnya yang harus menjadi perhatian serius setiap orang. Jatah hidup kita telah pasti dan telah ditentukan (alladzi khalaqa fasawwa walladzi qaddara fahadaa). Secara umum manusia memiliki jatah yang berbeda-beda. Ada yang lama (panjang umur). Ada pula yang sebentar (berumur pendek). Panjang atau pendeknya umur manusia itu yang disebut ajal. Dan ajal ini memang telah ditentukan (ajalan musammaa).
Lihat Juga :