Sejarah Sekaten, Peninggalan Hindu yang Diislamisasi

Senin, 25 September 2023 - 15:14 WIB
Budaya Sekaten dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk mengadakan penyebaran agama Islam. Ilustrasi: dok SINDOnews
Sejarah sekaten dimulai pada era Majapahit. Ini merupakan kelanjutan upacara tradisional yang dilaksanakan oleh raja-raja Jawa semenjak zaman Majapahit pada akhir abad 14 atau awal abad 15 yang dilaksanakan setiap tahun sekali. Tujuan upacara tersebut adalah untuk keselamatan kerajaan agar Tuhan selalu memberikan perlindungan dan keselamatan kepada Raja dan seluruh rakyatnya.

"Upacara selamatan tersebut dahulu disebut Rojowedo yang artinya kitab suci raja atau kebijaksanaan raja. Rojowedo disebut juga dengan rojomedo yang artinya hewan kurban raja yang diambilkan dan kerbau liar atau mahesolawung," tutur ES Ardinarto dalam karya tulisnya berjudul "Sekaten Merupakan Upacaya Adat yang Bernuansa Religius".

Upacara kurban semacam ini sering disebut sebagai mahesolawungan, dan ternyata sampai kini keraton Surakarta masih terus melaksanakan mahesolawungan yang diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis akhir bulan Bakda Mulud di tengah hutan Krendowahono- daerah Gondangreja-Kalioyoso.

Pada saat memotong hewan dilakukan dengan tatacara agama Hindu . Sebab kerajaan Majapahit dahulu sebagai penganut ajaran Hindu. Pada waktu mengadakan selamatan dan kurban selalu diiringi dengan bunyi-bunyian atau gamelan sebagai hiburannya.

Pengaruh Islam

Dwi Ratna Nurhajarini dalam bukunya berjudul "Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta" menyebut sekitar abad 15 pengaruh agama Islam mulai masuk ke tanah Jawa yang diikuti oleh kebudayaan Islam yang punya pengaruh besar terhadap kemunduran kebudayaan dan agama Hindu di Jawa. Apalagi sesudah berdirinya kerajaan Demak dengan Raden Patah sebagai raja Islam pertama.

Dengan masuknya pengaruh Islam ke Jawa mulailah agama dan budaya Islam berkembang yang akhirnya dapat menggantikan pengaruh Hindu bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit.

Simuh dalam "Mistik Islam Kejawen" menyebut dalam penyebaran agama Islam di Jawa menyebabkan ada dua jenis agama Islam yang disebut dengan (1) Islam Santri dan (2) Islam Kejawen atau Islam Abangan.

Islam santri sebagai sebutan orang Islam yang benar-benar menjalankan syariat Islam (rukun Islam) dengan penuh ketaatan. Sedangkan, Islam Abangan adalah golongan orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan syariat Islam dengan tekun, bahkan masih menjalankan pengaruh budaya Hindu, misalnya masih mengadakan selamatan dengan membuat sesaji.

"Sampai sekarangpun Islam Abangan atau Islam Kejawen masih banyak penganutnya," ujar Simuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!