Sejarah Sekaten, Peninggalan Hindu yang Diislamisasi
Senin, 25 September 2023 - 15:14 WIB
Penyebaran agama Islam di Jawa ternyata tidak berjalan mulus, karena pengaruh Hindu masih kuat, apalagi di pedalaman. Untuk melancarkan penyebaran agama Islam peran Wali Songo sangat besar. Salah satunya adalah Sunan Kalijaga, yang sudah memahami betul budaya orang Jawa, yang suka akan gamelan dan selamatan/sesaji dengan memotong hewan.
Budaya tersebut dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk mengadakan penyebaran agama Islam. Hanya saja pada waktu mengadakan kurban hewan yang akan dipotong terlebih dahulu didoakan secara Islam, tidak lagi secara Hindu. Ternyata saran dari Wali Songo tersebut diterima oleh masyarakat Demak.
Sularto dalam bukunya berjudul "Diorama Kraton Surakarta Hadiningrat" (Tiga Serangkai, 1993) menjelaskan untuk melanjutkan penyebaran agama Islam, maka pada tahun 1408 didirikan sebuah masjid besar di Kerajaan Demak sebagai pusat penyiaran agama Islam. Setiap tahun pada tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 bulan Mulud atau Rabiullawal di alun-alun diadakan perayaan atau pasar malam untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW . Perayaan itu akhimya disebut sekatenan.
"Agar para pengunjung mau masuk ke halaman masjid, maka mulai tanggal 5 Mulud di halaman masjid dibunyikan gamelan dengan lagu-lagu tertentu, sambil mendengarkan para Wali Songo berdakwah secara langsung," tutur Sularso.
Sebelum memasuki halaman masjid, masyarakat diwajibkan mengambil air wudhu, dan mengucapkan kalimat syahadat, Asyhadu alla ila ha illalah, waasyhadu anna Muhammadar rasulullah. Orang yang masuk ke halaman masjid sesudah wudhu serta mengucapkan kalimat syahadat, berarti orang tersebut sudah masuk Islam.
Cara seperti ini ternyata membawa hasil yang baik. Pada puncak acara sekatenan yaitu pada tanggal 12 Mulud, raja mengeluarkan sesaji yang diwujudkan dalam bentuk gunungan, yang isinya berupa hasil bumi dan jajanan pasar. Upacara sekatenan sering disebut Gerebeg Muludan.
Budaya tersebut dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk mengadakan penyebaran agama Islam. Hanya saja pada waktu mengadakan kurban hewan yang akan dipotong terlebih dahulu didoakan secara Islam, tidak lagi secara Hindu. Ternyata saran dari Wali Songo tersebut diterima oleh masyarakat Demak.
Sularto dalam bukunya berjudul "Diorama Kraton Surakarta Hadiningrat" (Tiga Serangkai, 1993) menjelaskan untuk melanjutkan penyebaran agama Islam, maka pada tahun 1408 didirikan sebuah masjid besar di Kerajaan Demak sebagai pusat penyiaran agama Islam. Setiap tahun pada tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 bulan Mulud atau Rabiullawal di alun-alun diadakan perayaan atau pasar malam untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW . Perayaan itu akhimya disebut sekatenan.
"Agar para pengunjung mau masuk ke halaman masjid, maka mulai tanggal 5 Mulud di halaman masjid dibunyikan gamelan dengan lagu-lagu tertentu, sambil mendengarkan para Wali Songo berdakwah secara langsung," tutur Sularso.
Sebelum memasuki halaman masjid, masyarakat diwajibkan mengambil air wudhu, dan mengucapkan kalimat syahadat, Asyhadu alla ila ha illalah, waasyhadu anna Muhammadar rasulullah. Orang yang masuk ke halaman masjid sesudah wudhu serta mengucapkan kalimat syahadat, berarti orang tersebut sudah masuk Islam.
Cara seperti ini ternyata membawa hasil yang baik. Pada puncak acara sekatenan yaitu pada tanggal 12 Mulud, raja mengeluarkan sesaji yang diwujudkan dalam bentuk gunungan, yang isinya berupa hasil bumi dan jajanan pasar. Upacara sekatenan sering disebut Gerebeg Muludan.
(mhy)
Lihat Juga :