Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Membela Rasulullah SAW ketika Dikeroyok Kafir Quraisy
Rabu, 27 September 2023 - 05:15 WIB
Beliau adalah sahabat yang siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawa, untuk melindungi Rasulullah SAW. Ilustrasi: Ist
Sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal amat dermawan. Bukan hanya itu. Beliau adalah sahabat yang siap mengorbankan apa saja, termasuk nyawa, untuk melindungi Rasulullah SAW.
Dalam menjalankan dakwah, beliau tidak hanya berbicara saja. Beliau dalam menghibur kaum duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan dianiaya oleh musuhmusuh dakwah, tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni mereka dengan hartanya.
"Digunakannya hartanya itu untuk membela golongan lemah dan orang-orang tak punya, yang telah mendapat petunjuk Allah ke jalan yang benar, tetapi lalu dianiaya oleh musuh-musuh kebenaran itu," ujar Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Baca juga: Perawakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menurut Sayyidah Aisyah
Sudah cukup diketahui, bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam, hartanya tak kurang dari 40.000 dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke Madinah sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal 5000 dirham.
"Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya, kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan Allah dan demi agama dan Rasul-Nya," tutur Haekal.
Kekayaannya itu, tambah Haekal, digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain hanya karena mereka masuk Islam.
Suatu hari Abu Bakar melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati dengan begitu, karena ia masuk Islam.
Dalam keadaan semacam itu tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad. Ketika itulah ia dibeli oleh Abu Bakar kemudian dibebaskan!
Baca juga: Karomah Abu Bakar Shiddiq yang Tidak Diketahui Banyak Orang
Dalam menjalankan dakwah, beliau tidak hanya berbicara saja. Beliau dalam menghibur kaum duafa dan orang-orang miskin yang disiksa dan dianiaya oleh musuhmusuh dakwah, tidak hanya dengan kedamaian jiwanya, dengan sifatnya yang lemah lembut, tetapi ia menyantuni mereka dengan hartanya.
"Digunakannya hartanya itu untuk membela golongan lemah dan orang-orang tak punya, yang telah mendapat petunjuk Allah ke jalan yang benar, tetapi lalu dianiaya oleh musuh-musuh kebenaran itu," ujar Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Baca juga: Perawakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menurut Sayyidah Aisyah
Sudah cukup diketahui, bahwa ketika Abu Bakar masuk Islam, hartanya tak kurang dari 40.000 dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan. Dan selama dalam Islam ia terus berdagang dan mendapat laba yang cukup besar. Tetapi setelah hijrah ke Madinah sepuluh tahun kemudian, hartanya itu hanya tinggal 5000 dirham.
"Sedang semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya, kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan Allah dan demi agama dan Rasul-Nya," tutur Haekal.
Kekayaannya itu, tambah Haekal, digunakan untuk menebus orang-orang lemah dan budak-budak yang masuk Islam, yang oleh majikannya disiksa dengan pelbagai cara, tak lain hanya karena mereka masuk Islam.
Suatu hari Abu Bakar melihat Bilal yang negro itu oleh tuannya dicampakkan ke ladang yang sedang membara oleh panas matahari, dengan menindihkan batu di dadanya lalu dibiarkannya agar ia mati dengan begitu, karena ia masuk Islam.
Dalam keadaan semacam itu tidak lebih Bilal hanya mengulang-ulang kata-kata: Ahad, Ahad. Ketika itulah ia dibeli oleh Abu Bakar kemudian dibebaskan!
Baca juga: Karomah Abu Bakar Shiddiq yang Tidak Diketahui Banyak Orang
Lihat Juga :