Jejak Kekejaman Israel: Kisah Pembersihan Orang-Orang Arab dari Bumi Palestina
Rabu, 11 Oktober 2023 - 08:40 WIB
Jumlah pengungsi itu menggelembung dalam perang 1967 ketika 323.000 orang Palestina lagi diusir keluar dari rumah-rumah mereka. Dari semua ini, 113.000 adalah pengungsi untuk kedua kalinya dari 726.000 orang yang telah menjadi tunawisma akibat perang 1948.
Baca juga: Jejak Israel: Kaum Pembunuh Nabi-Nabi yang Terusir dari Tanah Suci
Pengusiran
Di samping orang-orang yang terusir akibat perang, Israel juga secara sengaja mengusir beribu-ribu orang lainnya dari rumah-rumah mereka.
Paul Findley mengatakan sasaran utama para pemimpin Israel adalah membebaskan diri dari orang-orang Palestina, bukan mendorong mereka agar tetap tinggal di negara Yahudi.
Ahli sejarah Israel Benny Morris melaporkan: "Ben-Gurion jelas-jelas menginginkan sesedikit mungkin orang Arab tinggal di Negara Yahudi. Dia ingin melihat mereka lari. Demikian yang dikatakannya pada para kolega dan ajudannya dalam pertemuan-pertemuan di bulan Agustus, September dan Oktober (1948)"
Sebuah telaah dari Kementerian Luar Negeri pada 1949 mencatat bahwa meskipun telah membuat janji-janji di masa sebelumnya, para pejabat Israel "dengan sangat jelas menunjukkan" bahwa mereka kini tidak akan membiarkan "lebih dari sejumlah kecil pengungsi" untuk kembali ke rumah-rumah mereka.
Dalam diskusi-diskusi internal mereka, sejumlah pejabat Israel menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan adanya orang-orang non-Yahudi di dalam negara mereka yang baru.
Anggota Knesset Eliahu Carmeli berkata: "Saya tidak rela untuk menerima bahkan satu orang Arab pun, satu orang goy [non-Yahudi] pun. Saya menginginkan negara Yahudi seluruhnya untuk bangsa Yahudi."
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman, Sultan Abdul Hamid II: Kenapa Kita Harus Tinggalkan Al-Quds?
Ayah Moshe Dayan, Shmuel, yang juga seorang anggota Knesset, mengatakan bahwa dia menentang setiap usaha untuk kembali "bahkan jika dipertukarkan dengan perdamaian. Apa yang akan diberikan oleh perdamaian resmi itu pada kita?"
Baca juga: Jejak Israel: Kaum Pembunuh Nabi-Nabi yang Terusir dari Tanah Suci
Pengusiran
Di samping orang-orang yang terusir akibat perang, Israel juga secara sengaja mengusir beribu-ribu orang lainnya dari rumah-rumah mereka.
Paul Findley mengatakan sasaran utama para pemimpin Israel adalah membebaskan diri dari orang-orang Palestina, bukan mendorong mereka agar tetap tinggal di negara Yahudi.
Ahli sejarah Israel Benny Morris melaporkan: "Ben-Gurion jelas-jelas menginginkan sesedikit mungkin orang Arab tinggal di Negara Yahudi. Dia ingin melihat mereka lari. Demikian yang dikatakannya pada para kolega dan ajudannya dalam pertemuan-pertemuan di bulan Agustus, September dan Oktober (1948)"
Sebuah telaah dari Kementerian Luar Negeri pada 1949 mencatat bahwa meskipun telah membuat janji-janji di masa sebelumnya, para pejabat Israel "dengan sangat jelas menunjukkan" bahwa mereka kini tidak akan membiarkan "lebih dari sejumlah kecil pengungsi" untuk kembali ke rumah-rumah mereka.
Dalam diskusi-diskusi internal mereka, sejumlah pejabat Israel menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan adanya orang-orang non-Yahudi di dalam negara mereka yang baru.
Anggota Knesset Eliahu Carmeli berkata: "Saya tidak rela untuk menerima bahkan satu orang Arab pun, satu orang goy [non-Yahudi] pun. Saya menginginkan negara Yahudi seluruhnya untuk bangsa Yahudi."
Baca juga: Jejak Zionis di Ottoman, Sultan Abdul Hamid II: Kenapa Kita Harus Tinggalkan Al-Quds?
Ayah Moshe Dayan, Shmuel, yang juga seorang anggota Knesset, mengatakan bahwa dia menentang setiap usaha untuk kembali "bahkan jika dipertukarkan dengan perdamaian. Apa yang akan diberikan oleh perdamaian resmi itu pada kita?"
Lihat Juga :