Jejak Zionis di Ottoman, Sultan Abdul Hamid II: Kenapa Kita Harus Tinggalkan Al-Quds?
Rabu, 11 Oktober 2023 - 07:00 WIB
loading...
Sesungguhnya dia adalah tanah kita di setiap waktu dan masa, dan akan senantiasa demikian adanya. Foto/Ilustrasi: arab news
A
A
A
Penguasa Ottoman , Sultan Abdul Hamid II mengetahui tujuan-tujuan orang-orang Yahudi , setelah ia bertemu dengan pemimpin gerakan Zionisme internasional, Theodore Herzl. Kala itu, tahun 1896 M, Palestina adalah bagian dari wilayah Ottoman.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" mengatakan Sultan Abdul Hamid dalam catatan hariannya mengatakan: "Ketua gerakan Zionis Herzl tidak akan pernah sekali-kali bisa meyakinkan saya dengan pemikiran-pemikirannya."
"Mungkin saja perkataannya. 'Masalah orang orang Yahudi akan selesai pada saat orang-orang Yahudi telah mampu mengendalikan bajak di tangannya.’ Adalah sebuah ungkapan yang benar dalam pandangannya, bahwa dia memberikan jaminan tanah bagi saudara-saudaranya dari kalangan Yahudi. Namun dia lupa bahwa kecerdikan saja tidak cukup untuk menyelesaikan semua persoalan.”
Baca juga: Kisah Zionis Menekan Sultan Ottoman untuk Menguasai Bumi Palestina
“Orang-orang Zionis itu tidak hanya ingin melakukan kegiatan pertanian di Palestina. Mereka menginginkan banyak hal. Seperti pembentukan pemerintahan dan memilih wakil-wakilnya. Saya tahu dengan sebaik-baiknya ambisi mereka. Namun orang-orang Yahudi itu hanya melihat di luaran, bahwa saya akan menerima usaha mereka, sebagaimana saya sanggup membendung mereka untuk tidak melakukan pengabdian di tengah istana saya, maka saya juga akan memusuhi setiap cita-cita dan ambisi mereka di Palestina.”
Sedangkan mengenai Al-Quds, Sultan Abdul Hamid ll mengatakan; "Kenapa kita harus meninggalkan Al-Quds. Sesungguhnya dia adalah tanah kita di setiap waktu dan masa, dan akan senantiasa demikian adanya. Dia adalah salah satu dari kota-kota suci kita, dan berada di tanah Islam. Al-Quds selamanya harus berada di tangan kita.”
Maksud Sultan Abdul Hamid dalam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Theodore Herzl adalah, untuk mengetahui pertama, hakikat rencana-rencana orang Yahudi. Kedua, mengetahui kekuatan orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Ketiga, menyelamatkan pemerintahan Utsmani dari ancaman bahaya Yahudi.
Sultan Abdul Abdul Hamid mulai membentuk agen-agen internal dan eksternal untuk memantau apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka diminta untuk menuliskan laporan.
Baca juga: Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Sultan mengeluarkan dua maklumat penting. Pertama, pada bulan Juni tahun 1890 M dan yang kedua pada bulan Juli tahun 1890 M. Dalam maklumat yang pertama disebutkan tentang ditolaknya orang-orang Yahudi di kerajaan-kerajaan Syahsaniyah. Sedangkan yang kedua berisi kewajiban semua menteri untuk melakukan studi beragam serta wajib mengambil keputusan yang serius dan tegas dalam masalah Yahudi tersebut.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" mengatakan Sultan Abdul Hamid dalam catatan hariannya mengatakan: "Ketua gerakan Zionis Herzl tidak akan pernah sekali-kali bisa meyakinkan saya dengan pemikiran-pemikirannya."
"Mungkin saja perkataannya. 'Masalah orang orang Yahudi akan selesai pada saat orang-orang Yahudi telah mampu mengendalikan bajak di tangannya.’ Adalah sebuah ungkapan yang benar dalam pandangannya, bahwa dia memberikan jaminan tanah bagi saudara-saudaranya dari kalangan Yahudi. Namun dia lupa bahwa kecerdikan saja tidak cukup untuk menyelesaikan semua persoalan.”
Baca juga: Kisah Zionis Menekan Sultan Ottoman untuk Menguasai Bumi Palestina
“Orang-orang Zionis itu tidak hanya ingin melakukan kegiatan pertanian di Palestina. Mereka menginginkan banyak hal. Seperti pembentukan pemerintahan dan memilih wakil-wakilnya. Saya tahu dengan sebaik-baiknya ambisi mereka. Namun orang-orang Yahudi itu hanya melihat di luaran, bahwa saya akan menerima usaha mereka, sebagaimana saya sanggup membendung mereka untuk tidak melakukan pengabdian di tengah istana saya, maka saya juga akan memusuhi setiap cita-cita dan ambisi mereka di Palestina.”
Sedangkan mengenai Al-Quds, Sultan Abdul Hamid ll mengatakan; "Kenapa kita harus meninggalkan Al-Quds. Sesungguhnya dia adalah tanah kita di setiap waktu dan masa, dan akan senantiasa demikian adanya. Dia adalah salah satu dari kota-kota suci kita, dan berada di tanah Islam. Al-Quds selamanya harus berada di tangan kita.”
Maksud Sultan Abdul Hamid dalam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Theodore Herzl adalah, untuk mengetahui pertama, hakikat rencana-rencana orang Yahudi. Kedua, mengetahui kekuatan orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Ketiga, menyelamatkan pemerintahan Utsmani dari ancaman bahaya Yahudi.
Sultan Abdul Abdul Hamid mulai membentuk agen-agen internal dan eksternal untuk memantau apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka diminta untuk menuliskan laporan.
Baca juga: Catatan Harian Sultan Ottoman Menolak Menjual Palestina kepada Zionis
Sultan mengeluarkan dua maklumat penting. Pertama, pada bulan Juni tahun 1890 M dan yang kedua pada bulan Juli tahun 1890 M. Dalam maklumat yang pertama disebutkan tentang ditolaknya orang-orang Yahudi di kerajaan-kerajaan Syahsaniyah. Sedangkan yang kedua berisi kewajiban semua menteri untuk melakukan studi beragam serta wajib mengambil keputusan yang serius dan tegas dalam masalah Yahudi tersebut.
Lihat Juga :