Pendaran Cahaya Islam di Hispaniola
Rabu, 05 Agustus 2020 - 00:16 WIB
Masjid An-Noor ST Domingos berdiri di sisi Jalan Av Francia yang hanya berjarak 500 meter dari Istana Presiden Republik Dominika. Foto/Abdul Aziz
Sejatinya Islam sudah sampai di kawasan Karibia bersamaan dengan penjelajahan pelaut asal Italia Christhoper Columbus, pada 1492. Tapi, kaum muslim hanya menjadi pekerja atau budak dayung dalam ekspedisi mencari emas yang disponsori oleh Ratu Isabella dan Raja Ferdinand dari Spanyol itu.
Ketika pembangunan Kota St Domingos dipimpin oleh Bertholomew Columbus, adik sang penjelajah itu rampung dan tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan, justru mereka dibinasakan. Namun tak semua mereka berhasil dibunuh. Beberapa di antaranya berhasil melarikan diri. Budak asal Afrika Barat itu juga masih menganut ajaran nenek moyang mereka, yakni Islam . (Baca Juga: Hagia Sophia Jadi Masjid, Ketidakjujuran Dunia Terekspos! )
Pelarian mereka dalam hutan Haiti itu hanya menyisakan jejak peninggalan berupa pahatan tulisan ayat suci Al-Qur'an di pohon. Kisah itu tertulis dalam buku berbahasa Spanyol berjudul "Brezilyada Ilk Muslumanlar" karangan Prof Mehmet Emin Ozasfar. Buku itulah yang menjadi rujukan Direktur Masjid Annoor, ST Domimgos, dr Muhammad Arfan Khan kepada Tim Ekspedisi Kapal Phonecia, saat menjelaskan sejarah perjalanan Islam di pulau Hispaniola. Hispaniola adalah nama dari sebuah pulau yang terletak di Pulau Karibia .
Setelah itu, masih ada gelombang imigran muslim dari timur tengah tepatnya Lebanon yang datang pada abad ke 19. Tapi sayangnya, jejak mereka hanya tinggal nama Arab saja, sebab sudah meninggalkan ajaran Islam ," jelas dia.Pendapat itu benar adanya, buktinya keturunaan imigran Lebanon berhasil mendirikan Club Lebanese sejak 1913, dan saat ini dipimpin oleh Alfred Malek. Alfred Malek saat ini menjadi pengusaha properti di Republik Dominika. "Gelombang ketiga kedatangan imigran muslim di Republik Dominika ini adalah pada 1980an," kata dr Muhammad Arfan Khan.
Tapi sedikit berbeda, kali ini imigran ini datang bukan untuk mencari peruntungan atau mencari tanah harapan, tapi sekelompok mahasiswa kedokteran di universitas. Dia menjelaskan, kala itu fakultas kedokteran di Universitas Republik Dominika terkenal mutunya dan tidak terlalu mahal. "Mahasiswa kedokteran muslim saat itu datang dari Pakistan, Bangladesh India dan Afrika Selatan," cerita dokter yang bertugas pusat rehabilitas diabetes ini.
Selain menimba ilmu kedokteran, mereka giat berorganisasi dengan tujuan mendirikan Masjid ST Domingos. "Saat itu sebenarnya sudah ada enam musalla kecil di St Domingos. Tapi Kami bertekad mendirikan masjid," kata dia. (Baca Juga: Kisah Turis Memeluk Islam Setelah Belanja di Pasar Tarim Yaman )
Penggalanganan dana pun dilakukan. Berkat pergaulan, alhasil simpul-simpul keluarga muslim di ST Domimgos mulai saling mengenal satu sama lain, terlebih memiliki satu tujuan. "Akhirnya pada 1993, kami berhasil membeli dan mendirikan Masjid An Noor," ujar dia.
Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 2000 meter persegi itu terletak di jalan Av Francia dan hanya berjarak 500 meter dari Istana Presiden Republik Dominika. Dengan memiliki masjid dengan halaman yang luas tersebut memberi kesempatan bagi pengurus masjid menyelenggarakan syiar. Misalnya pada saat Ramadhan, halaman belakang seluas 400 meter persegi digelar meja-meja makan untuk Iftar atau buka puasa bersama. Bahkan kegiatan Iftar sudah digelar sejak masjid ini didirikan.
Ketika pembangunan Kota St Domingos dipimpin oleh Bertholomew Columbus, adik sang penjelajah itu rampung dan tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan, justru mereka dibinasakan. Namun tak semua mereka berhasil dibunuh. Beberapa di antaranya berhasil melarikan diri. Budak asal Afrika Barat itu juga masih menganut ajaran nenek moyang mereka, yakni Islam . (Baca Juga: Hagia Sophia Jadi Masjid, Ketidakjujuran Dunia Terekspos! )
Pelarian mereka dalam hutan Haiti itu hanya menyisakan jejak peninggalan berupa pahatan tulisan ayat suci Al-Qur'an di pohon. Kisah itu tertulis dalam buku berbahasa Spanyol berjudul "Brezilyada Ilk Muslumanlar" karangan Prof Mehmet Emin Ozasfar. Buku itulah yang menjadi rujukan Direktur Masjid Annoor, ST Domimgos, dr Muhammad Arfan Khan kepada Tim Ekspedisi Kapal Phonecia, saat menjelaskan sejarah perjalanan Islam di pulau Hispaniola. Hispaniola adalah nama dari sebuah pulau yang terletak di Pulau Karibia .
Setelah itu, masih ada gelombang imigran muslim dari timur tengah tepatnya Lebanon yang datang pada abad ke 19. Tapi sayangnya, jejak mereka hanya tinggal nama Arab saja, sebab sudah meninggalkan ajaran Islam ," jelas dia.Pendapat itu benar adanya, buktinya keturunaan imigran Lebanon berhasil mendirikan Club Lebanese sejak 1913, dan saat ini dipimpin oleh Alfred Malek. Alfred Malek saat ini menjadi pengusaha properti di Republik Dominika. "Gelombang ketiga kedatangan imigran muslim di Republik Dominika ini adalah pada 1980an," kata dr Muhammad Arfan Khan.
Tapi sedikit berbeda, kali ini imigran ini datang bukan untuk mencari peruntungan atau mencari tanah harapan, tapi sekelompok mahasiswa kedokteran di universitas. Dia menjelaskan, kala itu fakultas kedokteran di Universitas Republik Dominika terkenal mutunya dan tidak terlalu mahal. "Mahasiswa kedokteran muslim saat itu datang dari Pakistan, Bangladesh India dan Afrika Selatan," cerita dokter yang bertugas pusat rehabilitas diabetes ini.
Selain menimba ilmu kedokteran, mereka giat berorganisasi dengan tujuan mendirikan Masjid ST Domingos. "Saat itu sebenarnya sudah ada enam musalla kecil di St Domingos. Tapi Kami bertekad mendirikan masjid," kata dia. (Baca Juga: Kisah Turis Memeluk Islam Setelah Belanja di Pasar Tarim Yaman )
Penggalanganan dana pun dilakukan. Berkat pergaulan, alhasil simpul-simpul keluarga muslim di ST Domimgos mulai saling mengenal satu sama lain, terlebih memiliki satu tujuan. "Akhirnya pada 1993, kami berhasil membeli dan mendirikan Masjid An Noor," ujar dia.
Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 2000 meter persegi itu terletak di jalan Av Francia dan hanya berjarak 500 meter dari Istana Presiden Republik Dominika. Dengan memiliki masjid dengan halaman yang luas tersebut memberi kesempatan bagi pengurus masjid menyelenggarakan syiar. Misalnya pada saat Ramadhan, halaman belakang seluas 400 meter persegi digelar meja-meja makan untuk Iftar atau buka puasa bersama. Bahkan kegiatan Iftar sudah digelar sejak masjid ini didirikan.
Lihat Juga :