Adzan Senyap di Bumi Andalusia

Kamis, 06 Agustus 2020 - 17:01 WIB
Keterbukaan pemerintah Spanyol akan beragaman penduduknya, membuat komunitas Muslim Cadiz berani mengajukan dana pembinaan kepada pemerintah Kota untuk mendirikan madrasah. "Kamu lihat sendiri, ruangan masjid ini hanya lima meter kali sepuluh sudah termasuk dapur dan toilet, sehingga kami butuh ruangan tambahan untuk Madrasah," kata Razak.

Proposal itu belum mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah kota Cadiz. Razak Maklum, kota Cadiz dengan berpenduduk 1,2 juta itu, sedangkan penduduk yang beragama Islam hanya 70 orang. "Tapi kami tetap berusaha untuk mewujudkan madrasah itu," kata dia.

Minimnya muslim di kota ini ditengarai karena tingkat tidak banyak kesempatan kerja bagi Imigran. Sehingga aliran imigran dari Maroko dan negera Afrika utara lainya tidak sampai di Cadiz.

"Tingkat Pengangguran di Cadiz paling tinggi di Eropa, mencapai 40%," kata Razak.(Baca Juga: Inilah 10 Universitas Islam Favorit di Dunia )

Dia menambahkan, warga muslim di Cadiz umumnya imigran dari Maroko, tapi juga ada yang dari Afrika Seletan, Sinegal dan Tunisia yang telah menetap puluhan tahun. "Ada juga lima mualaf orang Spanyol asli," ujar dia.



Dia menjelaskan, Masjid Al Hooda dibiayai secara mandiri oleh komuitas muslim Cadiz. "Sadaqah dari jamah menjadi pendanaan utama operasional masjid. Tak heran kami tidak bisa mengaji iman, sehingga siapa saja bisa menjadi imam shalat wajib," kata dia.

Kondisi itu juga dialami saudara mereka di Kota La Liena. Di kota perbatasan Spanyol dan Gibraltar, komunitas muslim mencapai 1.800 jiwa. Jumlah itu disumbang oleh imigran Marako yang bekerja di Gibraltar, tapi bertempat tinggal di La Linea. Karena jumlah muslim cukup banyak di kota berpenduduk 62.940 itu.

Menurut Muhammad Bullus, Presiden Masjid Badar, La Linea, operasional masjid berasal dari infak dan sadaqah jamaah. Tapi sedikit lebih baik, komunitas muslim La Linea tidak lagi menyewa ruangan sebagai masjid, tapi telah memiliki sendiri Masjid yang terletak di pusat pertokoan pusat kota. "Tempat ini menjadi masjid sejak 12 tahun yang lalu. Sebelumnya kami ada masjid di tempat lebih tinggi dan harga sewanya mahal. Sekarangf masjid ini sudah menjadi milik umat muslim," kata dia.

Toko yang disulap menjadi masjid itu, dibeli dengan cara mencicil. Saat kami bertemu pada pertengahan Oktober 2019, Muhammad tengah berusaha keras untuk mengumpulkan uang pelunasan pelunasan Masjid itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!