Kisah Pemuka Yahudi Memeluk Islam, Pelajaran Berharga yang Diabadikan Al-Qur'an
Rabu, 15 November 2023 - 06:30 WIB
Kisah kesaksian pemuka Yahudi, Abdullah bin Salam membenarkan Al-Quran dan keimanannya kepada Nabi Muhammad ? diabadikan Allah dalam Al-Quran. Foto ilustrasi/ist
Andai orang-orang Yahudi dan Nasrani benar-benar mengikuti dan meyakini Kitab Taurat dan Injil, mereka pasti akan membenarkan bahwa Al-Qur'an itu benar-benar dari Allah dan Muhammad ﷺ itu benar-benar utusan-Nya, sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu.
Abdullah bin Salam adalah seorang pemuka dan pemimpin Yahudi di Madinah yang memeluk Islam di masa Nabi pada Tahun 622 M. Beliau bernama asli Hushain bin Salam bin Harits. Ketika Rahib-rahib Yahudi melancarkan permusuhan terhadap Islam, Abdullah bin Salam justru mengakui kebenaran Islam dan kenabian Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Salam awalnya seorang Rahib dan pemuka Yahudi yang dihormati di Madinah. Sebagai Rahib Yahudi, Abdullah bin Salam mengetahui betul isi kandungan Kitab Taurat dan kabar akan datangnya seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Kesaksiannya membenarkan Al-Qur'an dan keimanannya kepada Nabi Muhammad ﷺ diabadikan Allah dalam Al-Qur'an.
قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ وَكَفَرۡتُمۡ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنۡۢ بَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ عَلٰى مِثۡلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسۡتَكۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِيۡنَ
Artinya: "Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman, kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ahqaf Ayat 10)
Abdullah bin Salam mempelajari dan memahami dengan baik isi Taurat yang menyebutkan akan datangnya seorang Rasul terakhir yang berasal dari Nabi Ibrahim, dan dari jalur Nabi Ismail di Jazirah Arab. Setelah Nabi Muhammad ﷺ Hijrah ke Madinah, Abdullah bin Salam memperhatikan sifat-sifat Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya berupa ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan Allah kepadanya.
Kisah Abdullah bin Salam Masuk Islam
Kisah Abdullah bin Salam memeluk Islam diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Sudah lama ia menunggu kedatangan Nabi Muhammad ﷺ di Kota Madinah. Abdullah bin Salam menceritakan, ketika aku mendengar Rasulullah ﷺ, aku pun mengetahui ciri-ciri beliau, nama beliau, dan zaman kemunculan beliau yang kami tunggu-tunggu. Aku merahasiakan hal ini dan mendiamkannya hingga beliau tiba di Madinah."
Ketika beliau singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf, seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau. Pada saat itu, aku sedang bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku Khalidah binti Al-Harts duduk di bawahku. Ketika aku mendengar kedatangan beliau, aku bertakbir. Ketika bibiku mendengar takbirku, ia berkata kepadaku: "Semoga Allah menggagalkanmu! Demi Allah, jika engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau tidak akan menambah takbirmu."
Aku berkata kepada bibiku: "Bibi, demi Allah, beliau (Rasulullah ﷺ) adalah saudara Musa bin Imran, seagama dengannya, dan diutus membawa seperti yang dibawa Musa bin Imran." Bibiku berkata: "Hai anak saudaraku, apakah dia Nabi yang diberitahukan kepada kita bahwa dia akan diutus pada zaman sekarang?" Aku berkata kepada bibiku: "Ya."
Abdullah bin Salam adalah seorang pemuka dan pemimpin Yahudi di Madinah yang memeluk Islam di masa Nabi pada Tahun 622 M. Beliau bernama asli Hushain bin Salam bin Harits. Ketika Rahib-rahib Yahudi melancarkan permusuhan terhadap Islam, Abdullah bin Salam justru mengakui kebenaran Islam dan kenabian Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Salam awalnya seorang Rahib dan pemuka Yahudi yang dihormati di Madinah. Sebagai Rahib Yahudi, Abdullah bin Salam mengetahui betul isi kandungan Kitab Taurat dan kabar akan datangnya seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Kesaksiannya membenarkan Al-Qur'an dan keimanannya kepada Nabi Muhammad ﷺ diabadikan Allah dalam Al-Qur'an.
قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ كَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ وَكَفَرۡتُمۡ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنۡۢ بَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ عَلٰى مِثۡلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسۡتَكۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِيۡنَ
Artinya: "Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman, kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ahqaf Ayat 10)
Abdullah bin Salam mempelajari dan memahami dengan baik isi Taurat yang menyebutkan akan datangnya seorang Rasul terakhir yang berasal dari Nabi Ibrahim, dan dari jalur Nabi Ismail di Jazirah Arab. Setelah Nabi Muhammad ﷺ Hijrah ke Madinah, Abdullah bin Salam memperhatikan sifat-sifat Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya berupa ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan Allah kepadanya.
Kisah Abdullah bin Salam Masuk Islam
Kisah Abdullah bin Salam memeluk Islam diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Sudah lama ia menunggu kedatangan Nabi Muhammad ﷺ di Kota Madinah. Abdullah bin Salam menceritakan, ketika aku mendengar Rasulullah ﷺ, aku pun mengetahui ciri-ciri beliau, nama beliau, dan zaman kemunculan beliau yang kami tunggu-tunggu. Aku merahasiakan hal ini dan mendiamkannya hingga beliau tiba di Madinah."
Ketika beliau singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf, seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau. Pada saat itu, aku sedang bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku Khalidah binti Al-Harts duduk di bawahku. Ketika aku mendengar kedatangan beliau, aku bertakbir. Ketika bibiku mendengar takbirku, ia berkata kepadaku: "Semoga Allah menggagalkanmu! Demi Allah, jika engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau tidak akan menambah takbirmu."
Aku berkata kepada bibiku: "Bibi, demi Allah, beliau (Rasulullah ﷺ) adalah saudara Musa bin Imran, seagama dengannya, dan diutus membawa seperti yang dibawa Musa bin Imran." Bibiku berkata: "Hai anak saudaraku, apakah dia Nabi yang diberitahukan kepada kita bahwa dia akan diutus pada zaman sekarang?" Aku berkata kepada bibiku: "Ya."
Lihat Juga :