Misteri Kisah Ashabul Qaryah dalam Surat Yasin: Bukan Anthakiyah Lalu Siapa?
Selasa, 28 November 2023 - 14:47 WIB
Ashabul Qaryah adalah para penyembah berhala. Ilustrasi: Ist
Allah SWT berfirman:
"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". ( QS Yaasin : 13-19).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 13-14 dan Kisah tentang Tiga Utusan yang Diingkari Ashab al-Qaryah
Abu Bakar Zakaria dalam bukunya yang diterjemahkan Abu Umamah Arif Hidayatullah berjudul "Paganisme Sebelum Nabi Musa as" (Islam House, 2014) mengisahkan tentang Ashabul Qoryah serta kesyirikan yang terjadi di tengah-tengah mereka.
Menurutnya, para ulama salaf dan ulama belakangan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Qoryah ini tiada lain ialah Anthakiyah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, mengacu dengan riwayat yang sampai kepadanya dari sahabat Ibnu Abbas dan lainnya. Pendapat inilah yang banyak dipegang oleh jumhur ahli tafsir.
Penduduk Qoryah mempunyai seorang raja yang bernama Anthikhas bin Inthikhas. Ia merupakan salah satu dari anggota dinasti Fir'aun , yang menyembah berhala , mempraktikkan kesyirikan bersama penduduknya, dan mereka mempunyai tiga patung yang biasa disembah. Nama-nama berhala tersebut ialah Rumsa, ada yang mengatakan namanya Arthamis.
Dan para ulama berbeda pendapat tentang nama raja tersebut menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan namanya ialah Anthikhas, pendapat kedua menyebutkan namanya ialah Anthara. Menurut pendapat yang pilih oleh Ibnu Jarir namanya adalah Ibthihas.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 30-31: Belajar dari Kisah-Kisah Terdahulu
Selanjutnya Allah SWT mengutus kepada penduduk tersebut tiga orang rasul, mereka bernama Shodiq, Shoduq dan Syalum. Imam Ibnu Jarir menerangkan, seorang rasul di antara ketiganya diutus kepada penduduk tersebut. Seorang lagi diutus kepada penduduk Madinah. Kedua rasul itu mereka dustakan.
Allah SWT mengistimewakan yang ketiga dari yang lainya. Qatadah mengklaim bahwa nama-nama utusan tadi ialah utusan dari al-Masih, bukan utusan tersendiri yang Allah SWT angkat untuk kaum tersebut. Namun, nabi Isa as yang mengutus mereka untuk penduduk tersebut. Adapun nama dua utusan yang pertama ialah Syam'un dan Yohana, adapun nama utusan yang ketiga bernama Paulus.
Imam Ibnu Katsir mengomentari pendapat tadi dengan mengatakan, Pendapat ini sangat lemah, sebab penduduk Anthakiyah beriman kepada nabi Isa tatkala beliau diutus kepada mereka, di antaranya ada tiga orang yang menjadi pengikut setianya. Dan Anthakiyah tersebut merupakan salah satu dari tiga kota yang pertama kali beriman dengan al-Masih pada masa itu.
Oleh sebab itu, kota ini sekarang menjadi salah satu dari empat kota besar yang masih memiliki agama Nashrani yang kuat, yaitu Anthakiyah, al-Quds, Alexanderia, dan Roma, kemudian ditambah dengan Kostantinopel, mereka ini semua tidak dibinasakan.
Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21 Tentang Kisah Habib An-Najjar
Sedangkan penduduk yang dicantumkan dalam al-Qur'an mereka itulah yang dibinasakan tanpa tersisa, sebagaimana dijelaskan dalam akhir kisah mereka, manakala membunuh para utusan yang datang pada mereka.
﴿ وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلًا أَصۡحَٰبَ ٱلۡقَرۡيَةِ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ (١٣)إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِث فَقَالُوٓاْ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ (١٤)قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَر مِّثۡلُنَا وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ (١٥) قَالُواْ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ (١٦)وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ (١٧) قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيم (١٨) قَالُواْ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡم مُّسۡرِفُونَ (١٩) ﴾ يس
"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". ( QS Yaasin : 13-19).
Baca juga: Surat Yasin Ayat 13-14 dan Kisah tentang Tiga Utusan yang Diingkari Ashab al-Qaryah
Abu Bakar Zakaria dalam bukunya yang diterjemahkan Abu Umamah Arif Hidayatullah berjudul "Paganisme Sebelum Nabi Musa as" (Islam House, 2014) mengisahkan tentang Ashabul Qoryah serta kesyirikan yang terjadi di tengah-tengah mereka.
Menurutnya, para ulama salaf dan ulama belakangan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Qoryah ini tiada lain ialah Anthakiyah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, mengacu dengan riwayat yang sampai kepadanya dari sahabat Ibnu Abbas dan lainnya. Pendapat inilah yang banyak dipegang oleh jumhur ahli tafsir.
Penduduk Qoryah mempunyai seorang raja yang bernama Anthikhas bin Inthikhas. Ia merupakan salah satu dari anggota dinasti Fir'aun , yang menyembah berhala , mempraktikkan kesyirikan bersama penduduknya, dan mereka mempunyai tiga patung yang biasa disembah. Nama-nama berhala tersebut ialah Rumsa, ada yang mengatakan namanya Arthamis.
Dan para ulama berbeda pendapat tentang nama raja tersebut menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan namanya ialah Anthikhas, pendapat kedua menyebutkan namanya ialah Anthara. Menurut pendapat yang pilih oleh Ibnu Jarir namanya adalah Ibthihas.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 30-31: Belajar dari Kisah-Kisah Terdahulu
Selanjutnya Allah SWT mengutus kepada penduduk tersebut tiga orang rasul, mereka bernama Shodiq, Shoduq dan Syalum. Imam Ibnu Jarir menerangkan, seorang rasul di antara ketiganya diutus kepada penduduk tersebut. Seorang lagi diutus kepada penduduk Madinah. Kedua rasul itu mereka dustakan.
Allah SWT mengistimewakan yang ketiga dari yang lainya. Qatadah mengklaim bahwa nama-nama utusan tadi ialah utusan dari al-Masih, bukan utusan tersendiri yang Allah SWT angkat untuk kaum tersebut. Namun, nabi Isa as yang mengutus mereka untuk penduduk tersebut. Adapun nama dua utusan yang pertama ialah Syam'un dan Yohana, adapun nama utusan yang ketiga bernama Paulus.
Imam Ibnu Katsir mengomentari pendapat tadi dengan mengatakan, Pendapat ini sangat lemah, sebab penduduk Anthakiyah beriman kepada nabi Isa tatkala beliau diutus kepada mereka, di antaranya ada tiga orang yang menjadi pengikut setianya. Dan Anthakiyah tersebut merupakan salah satu dari tiga kota yang pertama kali beriman dengan al-Masih pada masa itu.
Oleh sebab itu, kota ini sekarang menjadi salah satu dari empat kota besar yang masih memiliki agama Nashrani yang kuat, yaitu Anthakiyah, al-Quds, Alexanderia, dan Roma, kemudian ditambah dengan Kostantinopel, mereka ini semua tidak dibinasakan.
Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 20-21 Tentang Kisah Habib An-Najjar
Sedangkan penduduk yang dicantumkan dalam al-Qur'an mereka itulah yang dibinasakan tanpa tersisa, sebagaimana dijelaskan dalam akhir kisah mereka, manakala membunuh para utusan yang datang pada mereka.
Lihat Juga :