Implementasi Konsep At-Tasamuh: Ibadah Ramadan dan Berbuat Baik dengan Sesama Manusia
Jum'at, 15 Maret 2024 - 16:18 WIB
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal, KH Bukhori Sail Attahiri menjelaskan pentingnya hablumminallah dan hablumminannas dijalankan bersama. Foto/Ist
JAKARTA - Bulan Ramadan membawa momen spiritual yang selalu ditunggu-tunggu seluruh umat Islam. Tak hanya memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, namun juga kesempatan untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail Attahiri menjelaskan pentingnya konsep keseimbangan hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia) dijalankan secara bersama tanpa meninggalkan salah satunya.
Baca juga: Sikap Tasamuh, Menghargai Perbedaan dan Dalilnya dalam Islam
“Ada yang hanya mementingkan hubungan dirinya dengan Allah, artinya ibadahnya kelihatan rajin banget, tapi tidak peduli dengan tetangganya. Dia justru merasa dirinya itu lebih hebat dari tetangganya yang ibadahnya tidak kelihatan sepertinya. Orang yang demikian bisa dipastikan salah dalam memahami esensi bulan Ramadan,” kata KH Bukhori dikutip Jumat (15/3/2024).
Menurutnya, seorang muslim yang menjalankan puasa tidak bisa mengesampingkan pentingnya berbuat baik pada sesama manusia, atau yang juga dikenal dengan istilah hablumminannas.
Berbuat baik terhadap sesama manusia juga berarti saling menghormati antara umat Islam yang berpuasa dengan mereka yang tidak menjalankannya.
KH Bukhori juga mengatakan bahwa konsep toleransi sebenarnya juga diajarkan dalam Islam. Islam mengenalnya dengan istilah at-tasamuh. Mendalami konsep ini, manusia diajarkan untuk tidak semena-mena lalu melanggar hak dari mereka yang dianggap berbeda.
Baca juga: MUI Ajak Umat Saling Menghargai Perbedaan Awal Ramadan
“Karena kita ini hidup dalam suasana yang damai, berbeda kalau kita sedang dalam situasi perang ya, itu lain lagi kaidahnya. Hidupnya kita di negara Indonesia yang kondusif dan dinaungi oleh peraturan hukum yang berlaku, maka kita semuanya mengacu kepada regulasi Pemerintah serta nilai dan norma masyarakat yang ada,” jelasnya.
Agar rasa toleransi dapat dihayati oleh masing-masing individu, ia juga menyoroti pentingnya saling mengerti dan memahami. Dengan demikian, masyarakat Indonesia bisa tetap kondusif walaupun berbeda suku, golongan, hingga keyakinan.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH Bukhori Sail Attahiri menjelaskan pentingnya konsep keseimbangan hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia) dijalankan secara bersama tanpa meninggalkan salah satunya.
Baca juga: Sikap Tasamuh, Menghargai Perbedaan dan Dalilnya dalam Islam
“Ada yang hanya mementingkan hubungan dirinya dengan Allah, artinya ibadahnya kelihatan rajin banget, tapi tidak peduli dengan tetangganya. Dia justru merasa dirinya itu lebih hebat dari tetangganya yang ibadahnya tidak kelihatan sepertinya. Orang yang demikian bisa dipastikan salah dalam memahami esensi bulan Ramadan,” kata KH Bukhori dikutip Jumat (15/3/2024).
Menurutnya, seorang muslim yang menjalankan puasa tidak bisa mengesampingkan pentingnya berbuat baik pada sesama manusia, atau yang juga dikenal dengan istilah hablumminannas.
Berbuat baik terhadap sesama manusia juga berarti saling menghormati antara umat Islam yang berpuasa dengan mereka yang tidak menjalankannya.
KH Bukhori juga mengatakan bahwa konsep toleransi sebenarnya juga diajarkan dalam Islam. Islam mengenalnya dengan istilah at-tasamuh. Mendalami konsep ini, manusia diajarkan untuk tidak semena-mena lalu melanggar hak dari mereka yang dianggap berbeda.
Baca juga: MUI Ajak Umat Saling Menghargai Perbedaan Awal Ramadan
“Karena kita ini hidup dalam suasana yang damai, berbeda kalau kita sedang dalam situasi perang ya, itu lain lagi kaidahnya. Hidupnya kita di negara Indonesia yang kondusif dan dinaungi oleh peraturan hukum yang berlaku, maka kita semuanya mengacu kepada regulasi Pemerintah serta nilai dan norma masyarakat yang ada,” jelasnya.
Agar rasa toleransi dapat dihayati oleh masing-masing individu, ia juga menyoroti pentingnya saling mengerti dan memahami. Dengan demikian, masyarakat Indonesia bisa tetap kondusif walaupun berbeda suku, golongan, hingga keyakinan.
Lihat Juga :