Benarkah Harus Menunggu Hidayah Dulu untuk Berhijab?
Minggu, 14 April 2024 - 10:50 WIB
Berhijab atau berjilbab merupakan salah satu bentuk ketaatannya kepada syariat Allah, karenanya perempuan muslimah diwajibkan menutup seluruh aurat tubuhnya. Foto ilustrasi/ist
Benarkah berhijab harus menunggu hidayah dulu? Pertanyaan ini muncul dan kembali ramai diperbincangkan, menyusul adanya anak seorang public figure yang membuka kembali hijabnya dengan alasan tengah mencari jati dirinya.
Dalam Islam, hijab atau jilbab merupakan aturan dan kepatuhan seorang muslimah kepada seluruh perintah Allah Ta'ala. Berhijab atau berjilbab juga salah satu bentuk ketaatannya kepada syariat Allah . Karena perempuan muslimah diwajibkan menutup seluruh aurat tubuhnya.
Sadar ataupun tidak, setiap kali melakukan salat lima waktu pun, muslimah senantiasa bersumpah kepada Allah Ta'ala,
"La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. " Yang artinya "Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah" kalimat sumpah dan janji kepada Allah untuk menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya senantiasa kita ucapkan di dalam salat.
Seseorang yang berjanji palsu di hadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka. “Jilbab adalah perintahNya bukan?” Kalau kita tidak jalankan artinya kita ingkar terhadap perintahnya.
Faktanya dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar teman-teman, saudara atau tetangga yang belum berhijab atau belum menutup aurat sesuai syariat, mengucapkan alasan belum datangnya hidayah dari Allah. “Aku belum berhijab karena belum dapat hidayah aja. Niat sih sudah ada!," kalimat itu paling sering kita dengar.
Benarkah menutup aurat atau berhijab harus menunggu datangnya hidayah? Bagaimana pandangan syariat tentang hal tersebut? Dalam Islam hidayah itu adalah rezeki, dan untuk memperolehnya harus bermodalkan usaha dan kerja keras.
Seperti diungkap Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya :
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS Adz-Dzariyat ayat 22-23 )
Begitu juga dengan hidayah. Hidayah harus dijemput dengan usaha dan kerja keras . Jika hanya diam tanpa usaha atau malah berbuat sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala, maka hanya akan membuat diri semakin menjauh dari Allah.
Dalam Islam, hijab atau jilbab merupakan aturan dan kepatuhan seorang muslimah kepada seluruh perintah Allah Ta'ala. Berhijab atau berjilbab juga salah satu bentuk ketaatannya kepada syariat Allah . Karena perempuan muslimah diwajibkan menutup seluruh aurat tubuhnya.
Sadar ataupun tidak, setiap kali melakukan salat lima waktu pun, muslimah senantiasa bersumpah kepada Allah Ta'ala,
"La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. " Yang artinya "Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah" kalimat sumpah dan janji kepada Allah untuk menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya senantiasa kita ucapkan di dalam salat.
Seseorang yang berjanji palsu di hadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka. “Jilbab adalah perintahNya bukan?” Kalau kita tidak jalankan artinya kita ingkar terhadap perintahnya.
Faktanya dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar teman-teman, saudara atau tetangga yang belum berhijab atau belum menutup aurat sesuai syariat, mengucapkan alasan belum datangnya hidayah dari Allah. “Aku belum berhijab karena belum dapat hidayah aja. Niat sih sudah ada!," kalimat itu paling sering kita dengar.
Benarkah menutup aurat atau berhijab harus menunggu datangnya hidayah? Bagaimana pandangan syariat tentang hal tersebut? Dalam Islam hidayah itu adalah rezeki, dan untuk memperolehnya harus bermodalkan usaha dan kerja keras.
Seperti diungkap Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya :
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (22) فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS Adz-Dzariyat ayat 22-23 )
Begitu juga dengan hidayah. Hidayah harus dijemput dengan usaha dan kerja keras . Jika hanya diam tanpa usaha atau malah berbuat sesuatu yang dilarang Allah Ta'ala, maka hanya akan membuat diri semakin menjauh dari Allah.
Lihat Juga :