Mendaki Puncak Jabal Nur, Berziarah ke Gua Hira saat Maghrib
Senin, 10 Juni 2024 - 13:47 WIB
Mendaki Puncak Jabal Nur, Berziarah ke Gua Hira saat Maghrib/Andryanto Wisnuwidodo/Sindonews
Sore itu azan Maghrib berkumandang saat saya masih awal perjalanan menuju Gua Hira yang berada di puncak Jabal Nur . Di gua yang berada di puncak Jabal Nur itulah untuk kali pertama Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril.
Saya dan seorang rekan sesama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) berhenti sejenak sambil menunggu selesainya kumandang azan maghrib. Saya lihat di sepanjang jalur mendatar beberapa rombongan orang mendirikan salat maghrib berjamaah setelah azan selesai.
Baca Juga: Gus Men: Murur Pertimbangkan Hukum Fikih dan Aspek Keamanan Jemaah
Mereka tetap khusyuk bersujud dengan kiblat ke Kakbah yang tampak dari kejauhan dengan jarak 4 kilometer. Pemandangan yang membuat saya merinding melihat peziarah yang tetap mendirikan salat maghrib.
Jemaah menyempatkan salat Maghrib saat mendaki Jabal Nuru untuk berziarah ke Gua Hira
Setelah badan sedikit bugar, saya kembali melanjutkan perjalanan pendakian ke Gua Hira yang terletak di 634 meter di atas permukaan air laut. Suhu Makkah yang panas membuat keringat mulai membasahi wajah dan seragam putih Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang saya pakai.
Tak terasa saya sudah berjalan hampir satu jam saat mendekati puncak Jabal Nur. Kedua kaki saya pun mulai terasa pegal dan sedikit gemetar. Saya mendongakkan kepala ke puncak Jabal Nur yang masih separo jalan. "Fiuh...Bisa nggak ya sampai ke gua Hira," gumam saya dalam hati.
Saya pun kembali berhenti dan duduk di anak tangga sambil meluruskan kaki. Setelah istirahat 5 menit dan mengambil napas, saya memantapkan niat untuk menuntaskan pendakian ke Gua Hira.
Ini kali kedua saya mendaki ke Gua Hira setelah delapan tahun lalu saya berziarah ke Gunung Cahaya di sela umrah tahun 2016. Saya terpacu untuk mengulang mencapai Gua Hira seperti delapan tahun lalu. "Bismillah."
Saya dan seorang rekan sesama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) berhenti sejenak sambil menunggu selesainya kumandang azan maghrib. Saya lihat di sepanjang jalur mendatar beberapa rombongan orang mendirikan salat maghrib berjamaah setelah azan selesai.
Baca Juga: Gus Men: Murur Pertimbangkan Hukum Fikih dan Aspek Keamanan Jemaah
Mereka tetap khusyuk bersujud dengan kiblat ke Kakbah yang tampak dari kejauhan dengan jarak 4 kilometer. Pemandangan yang membuat saya merinding melihat peziarah yang tetap mendirikan salat maghrib.
Jemaah menyempatkan salat Maghrib saat mendaki Jabal Nuru untuk berziarah ke Gua Hira
Setelah badan sedikit bugar, saya kembali melanjutkan perjalanan pendakian ke Gua Hira yang terletak di 634 meter di atas permukaan air laut. Suhu Makkah yang panas membuat keringat mulai membasahi wajah dan seragam putih Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang saya pakai.
Tak terasa saya sudah berjalan hampir satu jam saat mendekati puncak Jabal Nur. Kedua kaki saya pun mulai terasa pegal dan sedikit gemetar. Saya mendongakkan kepala ke puncak Jabal Nur yang masih separo jalan. "Fiuh...Bisa nggak ya sampai ke gua Hira," gumam saya dalam hati.
Saya pun kembali berhenti dan duduk di anak tangga sambil meluruskan kaki. Setelah istirahat 5 menit dan mengambil napas, saya memantapkan niat untuk menuntaskan pendakian ke Gua Hira.
Ini kali kedua saya mendaki ke Gua Hira setelah delapan tahun lalu saya berziarah ke Gunung Cahaya di sela umrah tahun 2016. Saya terpacu untuk mengulang mencapai Gua Hira seperti delapan tahun lalu. "Bismillah."
Lihat Juga :