Pada Hakikatnya Manusia tak Mampu Bersyukur kepada Allah secara Sempurna

Minggu, 04 Agustus 2024 - 20:39 WIB
Akan tetapi karena pengetahuan manusia tidak mungkin menjangkau hakikat Allah SWT, maka tidak mungkin pula ia akan mampu memuja dan memuji-Nya dengan benar sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

"Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu."

Baca juga: Cara Syukur dengan Hati, Begini Penjelasan Quraish Shihab

Atas dasar ini, maka seringkali pujian yang dipersembahkan kepada Allah, didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar dengan kata itu. Perhatikanlah firman-Nya dalam surat Asy-Syura ayat 5: "Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka."

Atau dalam surat Ar-Ra'd (13) : 13: "Guntur bertasbih sambil memuji-Nya."

Bahkan manusia pun di dalam salat mendahulukan "tasbih" (pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian), karena khawatir jangan sampai pujian yang diucapkan itu tak sesuai dengan keagungan-Nya. "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi hamdihi" ketika rukuk, dan "Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdihi" ketika sujud.

Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur adalah karena setan selalu menggoda manusia yang targetnya antara lain adalah mengalihkan mereka dari bersyukur kepada Allah.

Surat Al-A'raf ayat 17 menguraikan sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah depan, belakang, kiri, dan kanan mereka sehingga akhirnya seperti ucap setan yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur".

Sedikitnya makhluk Allah yang pandai bersyukur ditegaskan berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri seperti firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tida1k bersyukur" ( QS Al-Baqarah [2] : 243).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!