Kisah Heroik Abu Shujaa, Pejuang Palestina yang Syahid Dibunuh Israel
Senin, 02 September 2024 - 05:15 WIB
"Jika musuh membunuh saya, kami akan terus maju. Perjuangan tidak berakhir dengan satu orang; ada generasi yang akan bangkit untuk membela hak-hak kami."
Baca juga: Pesona Yahya Sinwar: Pemimpin Politik Hamas, Pengganti Ismail Haniyeh
Sangat Dicintai
Panglima tertinggi Tulkarem sangat dicintai dan dikagumi oleh warga Palestina. Pada bulan Juli 2024, warga Tepi Barat yang diduduki dimobilisasi untuk menyelamatkan Abu Shujaa ketika ia dikepung oleh Otoritas Palestina saat dirawat karena luka-luka akibat ledakan di Rumah Sakit Thabet.
Kemartiran Abu Shujaa terjadi saat Israel melakukan serangan militer besar-besaran di beberapa bagian Tepi Barat yang diduduki. Rezim tersebut telah menewaskan lebih dari selusin warga Palestina beberapa hari terakhir dalam serangan terburuk sejak tahun 2002.
Sejak 7 Oktober, lebih dari 650 warga Palestina, termasuk 148 anak-anak, telah dibunuh oleh Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Lebih dari 10.000 orang lainnya mendekam di penjara Israel atas tuduhan yang meragukan, dan tidak memperoleh keadilan.
Dalam pesan terakhirnya yang puitis dan penuh makna yang diunggah di media sosial, Abu Shujaa menegaskan kembali komitmennya terhadap perjuangan besar Palestina untuk pembebasan.
"Bagi saya, saya rasa hati saya tidak akan pernah pulih sepenuhnya, saya akan selalu merasakan kekurangan sepanjang hidup saya, meskipun tidak ada yang bisa saya lakukan yang belum saya lakukan," tulisnya sebagaimana dikutip Press TV.
Baca juga: Houthi: Yahya Sinwar Akan Mewujudkan Fase Bersejarah
"Saya melihat penangkapan saya, kehilangan rumah saya, perpisahan saya dari keluarga saya, kehilangan saudara saya Mahmoud, dan beberapa orang lain yang dekat dengan saya sebagai hal yang berlalu dibandingkan dengan seorang anak yang kehilangan ibunya, atau seorang ayah yang kehilangan anaknya, atau seorang tahanan yang akan menghabiskan puluhan tahun di selnya, tanpa anak-anaknya."
Ia segera menambahkan, ia "menghibur" dirinya sendiri bahwa jika mereka keluar dari perang melawan pendudukan Israel ini hidup-hidup, tugas mereka adalah memberikan inspirasi kepada orang lain dan "tetap setia kepada mereka yang telah berkorban dan memberikan begitu banyak."
Menurut keterangan saksi mata, pada hari Kamis itu Abu Shujaa bertempur seperti seorang pejuang veteran dan tidak mundur dari tempat kejadian. Ia juga mengorbankan dirinya untuk tujuan besar yang telah mengorbankan terlalu banyak nyawa selama bertahun-tahun.
Baca juga: Israel Ancam Lenyapkan Pemimpin Baru Hamas Yahya Sinwar
Baca juga: Pesona Yahya Sinwar: Pemimpin Politik Hamas, Pengganti Ismail Haniyeh
Sangat Dicintai
Panglima tertinggi Tulkarem sangat dicintai dan dikagumi oleh warga Palestina. Pada bulan Juli 2024, warga Tepi Barat yang diduduki dimobilisasi untuk menyelamatkan Abu Shujaa ketika ia dikepung oleh Otoritas Palestina saat dirawat karena luka-luka akibat ledakan di Rumah Sakit Thabet.
Kemartiran Abu Shujaa terjadi saat Israel melakukan serangan militer besar-besaran di beberapa bagian Tepi Barat yang diduduki. Rezim tersebut telah menewaskan lebih dari selusin warga Palestina beberapa hari terakhir dalam serangan terburuk sejak tahun 2002.
Sejak 7 Oktober, lebih dari 650 warga Palestina, termasuk 148 anak-anak, telah dibunuh oleh Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Lebih dari 10.000 orang lainnya mendekam di penjara Israel atas tuduhan yang meragukan, dan tidak memperoleh keadilan.
Dalam pesan terakhirnya yang puitis dan penuh makna yang diunggah di media sosial, Abu Shujaa menegaskan kembali komitmennya terhadap perjuangan besar Palestina untuk pembebasan.
"Bagi saya, saya rasa hati saya tidak akan pernah pulih sepenuhnya, saya akan selalu merasakan kekurangan sepanjang hidup saya, meskipun tidak ada yang bisa saya lakukan yang belum saya lakukan," tulisnya sebagaimana dikutip Press TV.
Baca juga: Houthi: Yahya Sinwar Akan Mewujudkan Fase Bersejarah
"Saya melihat penangkapan saya, kehilangan rumah saya, perpisahan saya dari keluarga saya, kehilangan saudara saya Mahmoud, dan beberapa orang lain yang dekat dengan saya sebagai hal yang berlalu dibandingkan dengan seorang anak yang kehilangan ibunya, atau seorang ayah yang kehilangan anaknya, atau seorang tahanan yang akan menghabiskan puluhan tahun di selnya, tanpa anak-anaknya."
Ia segera menambahkan, ia "menghibur" dirinya sendiri bahwa jika mereka keluar dari perang melawan pendudukan Israel ini hidup-hidup, tugas mereka adalah memberikan inspirasi kepada orang lain dan "tetap setia kepada mereka yang telah berkorban dan memberikan begitu banyak."
Menurut keterangan saksi mata, pada hari Kamis itu Abu Shujaa bertempur seperti seorang pejuang veteran dan tidak mundur dari tempat kejadian. Ia juga mengorbankan dirinya untuk tujuan besar yang telah mengorbankan terlalu banyak nyawa selama bertahun-tahun.
Baca juga: Israel Ancam Lenyapkan Pemimpin Baru Hamas Yahya Sinwar
(mhy)
Lihat Juga :