Padangan Agama tentang Makna Kematian: Kehidupan yang Sempurna
Kamis, 05 September 2024 - 09:05 WIB
Agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Ilustrasi: Ist
Agama , khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian . Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.
Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian.
" Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya," tulis Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman
Oleh karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad SAW , misalnya bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian)."
Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.
Dari Al-Quran ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan.
Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Yang pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna).
"Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna" ( QS Al-'Ankabut [29] : 64).
Baca juga: Manfaat Memperbanyak Mengingat Kematian
Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian.
" Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya," tulis Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Kelompok Sufi, Ketika Kematian Bukan Kematian, dan Kamar Pinjaman
Oleh karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad SAW , misalnya bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian)."
Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.
Dari Al-Quran ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan.
Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Yang pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna).
"Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna" ( QS Al-'Ankabut [29] : 64).
Baca juga: Manfaat Memperbanyak Mengingat Kematian
Lihat Juga :