Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Diawali Rasulullah SAW Berfungsi sebagai Mubayyin
Rabu, 02 Oktober 2024 - 07:13 WIB
Al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Ilustrasi: Ist
PADA saat Al-Quran diturunkan, Rasulullah SAW , yang berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya.
"Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya beliau, walaupun harus diakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentangnya atau karena memang Rasul sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996).
Menurutnya, kalau pada masa Rasulullah SAW para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad, khususnya mereka yang mempunyai kemampuan semacam Ali bin Abi Thalib , Ibnu 'Abbas , Ubay bin Ka'ab, dan Ibnu Mas'ud .
Baca juga: Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Tafsir Al-Qur'an (1)
Sementara sahabat ada pula yang menanyakan beberapa masalah, khususnya sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh-tokoh Ahlul-Kitab yang telah memeluk agama Islam, seperti 'Abdullah bin Salam, Ka'ab Al-Ahbar, dan lain-lain. "Inilah yang merupakan benih lahirnya Israiliyat ," ujar Quraish.
Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebutkan di atas mempunyai murid-murid dari para tabi'in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabi'in di kota-kota tersebut, seperti: (a) Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itu berguru kepada Ibnu 'Abbas; (b) Muhammad bin Ka'ab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang ketika itu berguru kepada Ubay bin Ka'ab; dan (c) Al-Hasan Al-Bashriy, Amir Al-Sya'bi, di Irak, yang ketika itu berguru kepada 'Abdullah bin Mas'ud.
Gabungan dari tiga sumber di atas, yaitu penafsiran Rasul SAW, penafsiran sahabat-sahabat, serta penafsiran tabi'in, menurut Quraish, dikelompokkan menjadi satu kelompok yang dinamai Tafsir bi Al-Ma'tsur.
"Dan masa ini dapat dijadikan periode pertama dari perkembangan tafsir," jelasnya.
Berlakunya periode pertama tersebut dengan berakhirnya masa tabi'in, sekitar tahun 150 H, merupakan periode kedua dari sejarah perkembangan tafsir.
Baca juga: Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Qur'an, Begini Penjelasannya
"Keadaan ini berlangsung sampai dengan wafatnya beliau, walaupun harus diakui bahwa penjelasan tersebut tidak semua kita ketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentangnya atau karena memang Rasul sendiri tidak menjelaskan semua kandungan Al-Quran," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996).
Menurutnya, kalau pada masa Rasulullah SAW para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas kepada beliau, maka setelah wafatnya, mereka terpaksa melakukan ijtihad, khususnya mereka yang mempunyai kemampuan semacam Ali bin Abi Thalib , Ibnu 'Abbas , Ubay bin Ka'ab, dan Ibnu Mas'ud .
Baca juga: Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Tafsir Al-Qur'an (1)
Sementara sahabat ada pula yang menanyakan beberapa masalah, khususnya sejarah nabi-nabi atau kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Quran kepada tokoh-tokoh Ahlul-Kitab yang telah memeluk agama Islam, seperti 'Abdullah bin Salam, Ka'ab Al-Ahbar, dan lain-lain. "Inilah yang merupakan benih lahirnya Israiliyat ," ujar Quraish.
Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebutkan di atas mempunyai murid-murid dari para tabi'in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh tafsir baru dari kalangan tabi'in di kota-kota tersebut, seperti: (a) Said bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Makkah, yang ketika itu berguru kepada Ibnu 'Abbas; (b) Muhammad bin Ka'ab, Zaid bin Aslam, di Madinah, yang ketika itu berguru kepada Ubay bin Ka'ab; dan (c) Al-Hasan Al-Bashriy, Amir Al-Sya'bi, di Irak, yang ketika itu berguru kepada 'Abdullah bin Mas'ud.
Gabungan dari tiga sumber di atas, yaitu penafsiran Rasul SAW, penafsiran sahabat-sahabat, serta penafsiran tabi'in, menurut Quraish, dikelompokkan menjadi satu kelompok yang dinamai Tafsir bi Al-Ma'tsur.
"Dan masa ini dapat dijadikan periode pertama dari perkembangan tafsir," jelasnya.
Berlakunya periode pertama tersebut dengan berakhirnya masa tabi'in, sekitar tahun 150 H, merupakan periode kedua dari sejarah perkembangan tafsir.
Baca juga: Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Qur'an, Begini Penjelasannya
Lihat Juga :