Begini Cara Rasulullah SAW Membangun Ekonomi Umat

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 21:50 WIB
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali saat menyampaikan paparannya di New York. Foto/Dok SINDOnews
Imam Shamsi Ali

Direktur/Imam Jamaica Muslim Center

Presiden Nusantara Foundation USA

Komitmen ubudiyah komprehensif yang tersimbolkan dalam pembangunan masjid (secara bahasa berarti tempat sujud) itu sekaligus bermakna komitmen hidup yang terpusat pada ketaatan Ilahi. Komitmen ketaatan Ilahi itu disusul dengan rekonsiliasi internal (al-muaakhaa) secara erat antara pendatang (imigran Makkah) dan penduduk pribumi (Native) Madinah.

Mereka dipersaudarakan di atas iman, dan dengan latar belakang yang ragam. Ukhuwah itulah yang menjadikan komunitas Rasul menjadi solid, bagaikan baja yang semakin dibakar dan dibanting semakin kuat dan bernilai. Dengan kekuatan (power) yang bersandar pada kekuatan internal (hati dan jamaah) serta nilai (value) yang dimilikinya, Umat ini siap membangun kehidupan kolektif bersama dengan seluruh anggota masyarakat lainnya. [Baca Juga: Hijrah, Pilar Peradaban Modern (1) ]

Konstitusi Negara

Kita kenal dalam sejarah bahwa sebelum Rasulullah SAW tiba di Madinah, selain masyarakat Arab dengan dua suku besar; ‘Aus dan Khazraj, juga ada dua komunitas agama besar lainnya. Mereka adalah masyarakat Yahudi dengan tiga suku besarnya, dan masyarakat Nashora (Kristen) yang umumnya menempati pinggiran kota Yatsrib saat itu. (Baca Juga: Awalnya Salat di Garasi Rumah, Kini Islam Bersemi di Samudera Atlantik Utara )

Kedua kelompok masyarakat ini sejak lama dipandang oleh sebagian masyarakat Arab sebagai "the religious dan civilized" sehingga secara informal mereka memiliki posisi "advisors" penasehat kepada masyarakat Arab. Bahkan banyak di antara orang-orang Arab memaksa anak-anak mereka untuk beragama Kristen atau Yahudi karena dianggap lebih terdidik, beradab dan maju. Kira-kira mirip mentalitas dunia ketiga yang selalu ingin meniru gaya Barat yang dianggap lebih maju.

(Baca Juga: Pramugarinya Dilecehkan Penumpang, Bos Garuda: Tolong Etika Dijaga! )

Dengan masyarakat pluralis seperti itu Rasulullah SAW sebagai Pemimpin tentu sadar bahwa Madinah bukan hanya milik warganya yang beragama Islam. Tapi sebuah negara yang penduduknya plural dan pastinya memiliki hak yang sama dalam tatanan institusi negara.

Untuk institusi negara eksis hal pertama yang diperlukan adalah adanya Konstitusi yang menjadi rujukan bersama semua warga negara. Dan Karenanya hal selanjutnya yang Rasulullah lakukan adalah membentuk Konstitusi negara pertama dalam sejarah manusia. Itulah yang dikenal dengan nama Piagama Madinah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!