Pengertian Wahabi: Benarkan Julukan bagi Orang yang Melanggar Tradisi?
Selasa, 22 Oktober 2024 - 09:00 WIB
Baca juga: Senja Kala Wahabi di Arab Saudi
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, mengaku tidak mengenal sedikit pun tentang wahabi, kecuali sekadar yang ia dengar dari para Syaikh.
Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
"Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh," ujar Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
Kemudian Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu tanyakan jama'ahnya, sehingga ia mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadis, dan fikih.
Bersama anak-anak Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dan sebagian pemuda intelektual, ia mendatangi majelis mereka kami masuk ke sebuah ruangan yang besar.
"Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, lalu beliau duduk di kursi dantak seorang pun berdiri untuknya," ujar Syaikh Muhammad bin Jamil Zainuberkisah.
Baca juga: Ini Beda Salafi dan Wahabi Agar Tidak Rancu
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata dalam hati, "Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu Syaikh membuka pelajaran-pelajaran dengan ucapan, "Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan...", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa membuka khotbah dan pelajarannnya.
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, mengaku tidak mengenal sedikit pun tentang wahabi, kecuali sekadar yang ia dengar dari para Syaikh.
Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
"Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh," ujar Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
Kemudian Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu tanyakan jama'ahnya, sehingga ia mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadis, dan fikih.
Bersama anak-anak Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dan sebagian pemuda intelektual, ia mendatangi majelis mereka kami masuk ke sebuah ruangan yang besar.
"Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang Syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, lalu beliau duduk di kursi dantak seorang pun berdiri untuknya," ujar Syaikh Muhammad bin Jamil Zainuberkisah.
Baca juga: Ini Beda Salafi dan Wahabi Agar Tidak Rancu
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata dalam hati, "Ini adalah seorang Syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu Syaikh membuka pelajaran-pelajaran dengan ucapan, "Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan...", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam biasa membuka khotbah dan pelajarannnya.
Lihat Juga :