Akhlak Dasar Seorang Muslim yang Sudah Langka Ditemui

Sabtu, 02 November 2024 - 05:15 WIB
يَا بُنَىَّ لِأَنْ تَتَعَلَّمَ بَابًا مِنْ الأَدَبِ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ تَتَعَلَّمَ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ العِلْمِ


“Wahai anakku, aku lebih suka melihatmu mempelajari satu bab tentang adab dibanding mempelajari tujuh puluh bab tentang ilmu.” (Tazkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, Ibnu al-Jama’ah al-Kinani, 2)

Al-Mikhlad bin Husain berkata kepada Imam Ibnul Mubarak,

نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الحَدِيثِ


“Kita jauh lebih membutuhkan banyaknya adab dibanding banyaknya hadits.”

Dalam kitab Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlih karya Abu Amr al-Qurthubi (No. 816) disebutkan, Al-Laits bin Sa’ad sering menasihati para pelajar hadis,

تَعَلَمُوْا الحِلْمَ قَبْلَ العِلْمِ


‘Pelajarilah kelembutan hati dan kerendahan jiwa sebelum kalian belajar ilmu.’”

Imam Ibnul Mubarak berkata,

تَعَلَّمْتُ الأَدَبَ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً، وَتَعَلَّمْتُ العِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً


“Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.”

Semua ini disampaikan oleh para ulama salaf di zaman yang umat manusia masih sangat dekat dengan ulama dan ahlul ilmi yang menjaga adab dan ilmu mereka.

Baca juga: 3 Keutamaan Sifat Memaafkan, Nomor 1 Lebih Mulia dari Akhlak Terpuji

Wallahu A'lam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!