Sihir dalam Al-Qur'an: Bukan Ajaran Nabi Sulaiman

Rabu, 20 November 2024 - 17:43 WIB
Tujuan Ilmu sihir adalah untuk keburukan, kejahatan. Praktiknya bekerja sama dengan setan, jin dan manusia serta anti Tuhan. Ilustrasi: AI
FENOMENA sihir yang ruwet esoteris dan segala refleksinya di dalam sejumlah kehidupan lainnya, telah sejak lama dikenal luas di berbagai belahan dunia.

"Sihir dalam masyarakat agamis, bagaikan penumpang gelap, penuh misteri berwatak jahat, super natural dan serba gaib," tulis Hurmain dalam “Dukun Blach Megic di Pasir Pangairian”, (Hasil Penelitian, Balitbang IAIN Susqa, Pekanbaru, 1989). "Oleh karena itu dalam Agama (Islam) ia dipandang negatif (musyrik), harus dijauhi dan ditumpas."

Perbuatan Ajaib

Sihir adalah perbuatan ajaib yang dilakukan dengan pesona dan kekuatan guna-guna, mantra atau jampi yang digunakan untuk tujuan tertentu, seperti penangkal dan mencelakai orang lain.

Oleh karena itu sihir bisa menimbulkan dampak beraneka ragam, seperti sakit, kematian , kebencian, gairah syahwat dan penceraian serta perselingkuhan.



Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 30 ayat bicara mengenai sihir. Antara lain surat Al-Baqarah ayat 102. Asbabu nuzul ayat ini, ditarbelakangi tuduhan kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW bahwa ajaran yang dikembangkan beliau itu adalah sihir.

Dalam ayat ini Allah menceritakan perbuatan sihir orang Yahudi di zaman Nabi Sulaiman . Tujuan mereka memutar balikkan fakta dan pembangkangan terhadap kitab Taurat yang benar. Dan ilmu sihir yang mereka kembangkan, tidak ada relevansinya dengan ajaran Nabi Sulaiman.

Kejahatan

Mempelajari ilmu sihir menurut sebagian ulama tafsir, adalah boleh yang dilarang menggunakan ilmu itu untuk kejahatan.

Menurut para ahli tafsir, ilmu sihir termasuk ilmu yang tercela, merugikan bagi diri si penyihir dan yang terkena sihir. Karena itu kedua belah pihak bisa dikenakan sebagai sikap penolakan kebenaran atau kekafiran.

Cendekiawan muslim Nurcholish Madjid berpendapat mempelajari Ilmu Sihir menurut sebagian para ulama, adalah boleh yang dilarang adalah menggunakan ilmu itu. Demikian



Beliau tambahkan “bahwa menerangkan kepada masyarakat mengenai sihir yang beraneka bentuk dan jenisnya itu sangat diperlukan. Sebab, katanya, sihir adalah ilmu yang merugikan dan sangat membahayakan, sehingga mengamalkan dikaitkan sebagai sikap menolak kebenaran atau kekafiran.

Akan tetapi ada yang berpandangan lain, dan berpendapat, bahwa sihir itu netral, seperti halnya ilmu kedokteran, ilmu hukum dan lain-lain. Ia bisa positif dan bisa negatif, tergantung pada pelaku yang menggunakan bisa dan menyalahgunakannya.

Sebenarnya fenomena silang pendapat mengenai sihir di atas dapat dimengerti, apabila disadari betapa urgennya persoalan sihir bagi pribadi yang terkena sihir atau menjadi penyihir.

Tak seorang pun ulama yang menyangkal bahwa kepercayaan atau keyakinan terhadap sihir adalah Anti Agama. Terlebih menurut ruang lingkup Islam khususnya persoalan yang berkenaan dengan konsep ini sangat sensitif dan agak menyerempet kemusyrikan iman seseorang sebagai umat beragama (islam), tetapi juga karena pembicaraan sihir ini menandai telah sejak masa (Sulaiman, Musa dan Muhammad SAW) telah menjadi bahan pembicaraan.

6 Fakta

Hurmain menyimpul tentang 6 fakta dalam artikelnya berjudul "Sihir dalam Pandangan Al-Qur’an" sebagai berikut:

1. Usaha orang-orang Yahudi dalam mempelajari dan menyebarluaskan sihir adalah menyimpang dari ajaran Taurat.
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur Ayat 31)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More