Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Mengganti dengan yang Lebih Megah
Senin, 02 Desember 2024 - 05:15 WIB
Masjid Nabawi pada mulanya dibangun sangat sederhana. Dinding dari bata jemur, langit-langit dari pelepah daun kurma dan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Foto: Wikipedia
Masjid Nabawi di Madinah adalah pusat pemerintahan. Rasulullah SAW duduk di situ dalam mengatur segala persoalan umum, begitu juga di masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab . Kalau diperlukan musyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, maka diserukan azan bahwa salat sudah siap.
Sesudah orang banyak berkumpul di Masjid, Nabi mengajak mereka bermusyawarah. Musyawarah demikian itu juga yang kemudian dilakukan oleh kedua orang penggantinya. "Juga Utsman meneruskan cara ini," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Akan tetapi, kata Haekal, Utsman belum puas dengan bangunan Masjid itu sebagai pusat pemerintahan, yang juga demikian pada masa Nabi dan kedua Khalifah itu. Malah ia berpendapat akan melengkapi Masjid itu dengan lambang kewibawaan, sehingga dipandang pantas sebagai tempat yang akan mengeluarkan segala ketentuan kepada para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik (Damaskus), Fustat, Kufah dan Basrah.
Baca juga: Umar Bin Khattab Marah Saat Paman Nabi Menolak Digusur Demi Perluasan Masjid Nabawi
Masjid Nabawi pada mulanya dibangun sangat sederhana. Dinding dari bata jemur, langit-langit dari pelepah daun kurma dan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Selama enam tahun keadaan Masjid berturut-turut tetap seperti itu. Tak ada yang diubah sementara Islam sudah berkembang dan kota Madinah sudah bertambah makmur dan Allah sudah melimpahkan rezeki kepada penduduknya.
Sesudah Muslimin membebaskan Khaibar dan kota Madinah khusus hanya untuk kaum Muslimin jumlah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah kepada Islam sudah bertambah banyak. Maka mau tak mau bangunan Masjid itu harus diperluas. Nabi sudah menambah luas Masjid seratus meter persegi atau lebih, tanpa mengubah bangunannya yang dari bata jemur, pelepah daun kurma dan batang pohon kurma itu.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar tak ada perubahan kecuali ada dituturkan bahwa kedua dinding Masjid yang sudah rapuh dibangun kembali.
Selama masa Umar bin Khattab, karena jumlah Muslimin di Madinah terus bertambah dan Masjid harus diperluas lagi, maka Umar menambah luasnya, tetapi bangunan Masjid tidak mengalami perubahan. Ia membangun dindingnya seperti yang dibangun oleh Rasulullah dan dasarnya dari batu dengan bata jemur di bagian atasnya, tiang-tiangnya dibuat dari kayu dan langit-langitnya dari pelepah daun kurma.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Khattab Membangun Masjid Al Aqsa
Pintu Masjid dijadikan enam buah, dan di samping ada tempat yang diberi nama al-Batha'; jika ada orang mau mengucapkan kata-kata atau mau berbicara dengan suara keras, harus keluar ke tempat itu, sehingga tidak menodainya seperti dalam urusan perdagangan atau hal-hal yang tidak semestinya.
Sesudah orang banyak berkumpul di Masjid, Nabi mengajak mereka bermusyawarah. Musyawarah demikian itu juga yang kemudian dilakukan oleh kedua orang penggantinya. "Juga Utsman meneruskan cara ini," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Akan tetapi, kata Haekal, Utsman belum puas dengan bangunan Masjid itu sebagai pusat pemerintahan, yang juga demikian pada masa Nabi dan kedua Khalifah itu. Malah ia berpendapat akan melengkapi Masjid itu dengan lambang kewibawaan, sehingga dipandang pantas sebagai tempat yang akan mengeluarkan segala ketentuan kepada para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik (Damaskus), Fustat, Kufah dan Basrah.
Baca juga: Umar Bin Khattab Marah Saat Paman Nabi Menolak Digusur Demi Perluasan Masjid Nabawi
Masjid Nabawi pada mulanya dibangun sangat sederhana. Dinding dari bata jemur, langit-langit dari pelepah daun kurma dan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Selama enam tahun keadaan Masjid berturut-turut tetap seperti itu. Tak ada yang diubah sementara Islam sudah berkembang dan kota Madinah sudah bertambah makmur dan Allah sudah melimpahkan rezeki kepada penduduknya.
Sesudah Muslimin membebaskan Khaibar dan kota Madinah khusus hanya untuk kaum Muslimin jumlah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah kepada Islam sudah bertambah banyak. Maka mau tak mau bangunan Masjid itu harus diperluas. Nabi sudah menambah luas Masjid seratus meter persegi atau lebih, tanpa mengubah bangunannya yang dari bata jemur, pelepah daun kurma dan batang pohon kurma itu.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar tak ada perubahan kecuali ada dituturkan bahwa kedua dinding Masjid yang sudah rapuh dibangun kembali.
Selama masa Umar bin Khattab, karena jumlah Muslimin di Madinah terus bertambah dan Masjid harus diperluas lagi, maka Umar menambah luasnya, tetapi bangunan Masjid tidak mengalami perubahan. Ia membangun dindingnya seperti yang dibangun oleh Rasulullah dan dasarnya dari batu dengan bata jemur di bagian atasnya, tiang-tiangnya dibuat dari kayu dan langit-langitnya dari pelepah daun kurma.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Khattab Membangun Masjid Al Aqsa
Pintu Masjid dijadikan enam buah, dan di samping ada tempat yang diberi nama al-Batha'; jika ada orang mau mengucapkan kata-kata atau mau berbicara dengan suara keras, harus keluar ke tempat itu, sehingga tidak menodainya seperti dalam urusan perdagangan atau hal-hal yang tidak semestinya.
Lihat Juga :