Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Mengganti dengan yang Lebih Megah
Senin, 02 Desember 2024 - 05:15 WIB
Sesudah kekhalifahan beralih ke tangan Utsman, maka yang pertama disampaikannya kepada umum ialah rencana perluasan Masjid. Keluhan masyarakat adalah Masjid itu terasa sudah terlalu sempit untuk salat Jumat, setelah penduduk Madinah bertambah dalam jumlah besar, sejalan dengan bertambahnya wilayah-wilayah yang dibebaskan. Utsman bermusyawarah dengan beberapa pemuka dan mereka sepakat untuk merobohkan Masjid itu, lalu membangun kembali dan memperluasnya.
Utsman menambah perluasan Masjid itu besar-besaran, namun tidak hanya menambah perluasannya seperti yang dilakukan oleh Umar, melainkan ia mengadakan pembaruan dalam bangunan itu sesuai dengan kecenderungan aspirasinya.
Langkah ini telah menimbulkan keberatan sekelompok jemaah Muslimin ketika itu, yang menginginkan pembangunan Masjid seperti yang dibangun oleh Rasulullah. Tetapi Utsman tidak peduli apa yang mereka katakan.
Ia tidak lagi membaharui Masjid dengan bata jemur, tiang-tiangnya tidak lagi menggunakan kayu dan langit-langitnya juga bukan lagi dari pelepah daun kurma, tetapi seluruh dindingnya dibuat dari batu yang diukir dan tiang-tiangnya dari batu yang dipahat dan mengisinya dengan batang besi, dicor dengan timah serta bagian luarnya diukir dan langit-langitnya dibuat dari kayu bermutu tinggi.
Baca juga: Pengadilan Hurmuzan: Ketika Umar bin Khattab Tidur di Emperen Masjid
Dengan demikian bangunan Masjid itu dibangun kembali dari dasarnya, beberapa macam hiasan dan ornamen dihilangkan. Dengan demikian tindakannya itu oleh beberapa sahabat Rasulullah dianggap aneh. Mereka mengecamnya, karena telah menyalahi kelaziman Rasulullah dan kedua penggantinya, Abu Bakar dan Umar.
Utsman telah melengkapi Masjid Nabi itu dengan lambang kewibawaan, sebab kini sudah menjadi pusat pemerintahan. Semua perintah dikeluarkan dari sana untuk para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik, di Fustat, Kufah dan Basrah.
Beda dengan Masjidilharam
Haekal mengatakan ketikaUtsman mengadakan perluasan Masjidilharam di Makkah, yang demikian itu tidak dilakukannya. Kakbah sebagai Baitullah, yang ada berdiri di sekitarnya hanyalah sebuah beranda sempit tempat orang salat di sana. Selama masa Nabi dan selama masa Abu Bakar keadaannya tetap seperti itu.
Sesudah Islam berkembang dan banyak orang yang menunaikan ibadah haji dan salat di sekeliling Kakbah di masa Umar bin Khattab, ruangan itu sudah terasa sempit sekali. Kemudian orang memasuki Masjid dari pintu-pintu rumah yang ada di sekitarnya.
Utsman menambah perluasan Masjid itu besar-besaran, namun tidak hanya menambah perluasannya seperti yang dilakukan oleh Umar, melainkan ia mengadakan pembaruan dalam bangunan itu sesuai dengan kecenderungan aspirasinya.
Langkah ini telah menimbulkan keberatan sekelompok jemaah Muslimin ketika itu, yang menginginkan pembangunan Masjid seperti yang dibangun oleh Rasulullah. Tetapi Utsman tidak peduli apa yang mereka katakan.
Ia tidak lagi membaharui Masjid dengan bata jemur, tiang-tiangnya tidak lagi menggunakan kayu dan langit-langitnya juga bukan lagi dari pelepah daun kurma, tetapi seluruh dindingnya dibuat dari batu yang diukir dan tiang-tiangnya dari batu yang dipahat dan mengisinya dengan batang besi, dicor dengan timah serta bagian luarnya diukir dan langit-langitnya dibuat dari kayu bermutu tinggi.
Baca juga: Pengadilan Hurmuzan: Ketika Umar bin Khattab Tidur di Emperen Masjid
Dengan demikian bangunan Masjid itu dibangun kembali dari dasarnya, beberapa macam hiasan dan ornamen dihilangkan. Dengan demikian tindakannya itu oleh beberapa sahabat Rasulullah dianggap aneh. Mereka mengecamnya, karena telah menyalahi kelaziman Rasulullah dan kedua penggantinya, Abu Bakar dan Umar.
Utsman telah melengkapi Masjid Nabi itu dengan lambang kewibawaan, sebab kini sudah menjadi pusat pemerintahan. Semua perintah dikeluarkan dari sana untuk para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik, di Fustat, Kufah dan Basrah.
Beda dengan Masjidilharam
Haekal mengatakan ketikaUtsman mengadakan perluasan Masjidilharam di Makkah, yang demikian itu tidak dilakukannya. Kakbah sebagai Baitullah, yang ada berdiri di sekitarnya hanyalah sebuah beranda sempit tempat orang salat di sana. Selama masa Nabi dan selama masa Abu Bakar keadaannya tetap seperti itu.
Sesudah Islam berkembang dan banyak orang yang menunaikan ibadah haji dan salat di sekeliling Kakbah di masa Umar bin Khattab, ruangan itu sudah terasa sempit sekali. Kemudian orang memasuki Masjid dari pintu-pintu rumah yang ada di sekitarnya.
Lihat Juga :