Penyakit Ananiah, Obatnya Ibadah yang Ikhsan dan Khusyuk
Senin, 16 Desember 2024 - 14:19 WIB
Ibadah yang ihsan telah diterangkan oleh Rasulullah sebagai merasakan bahwa kita melihat Allah dalam 'Ibadah itu, karena walaupun tak mungkin melihat-Nya, tapi kita dapat merasakan, bahwa Allah senantiasa melihat dan memperhatikan perangai kita. 'Ibadah yang ihsan ini akan menumbuhkan rasa dekat dan mesra dengan Allah, sehingga menimbulkan rasa cinta kepada-Nya.
Baca juga: Al-Qur'an Tegas Melarang Perkawinan dengan Orang Musyrik
Rasa cinta ini akan menumbuhkan percaya diri yang sangat tinggi di dalam pribadi kita, sehingga rasa ketidak-stabilan oleh karena ketidak-pastian tadi menjadi sirna sama sekali, maka bersihlah diri dari sikap was-was atau ragu akan kasih sayang Allah, sebagaimana difirmankan Allah di dalam al-Qur'an:
"Demi pribadi dan penyempurnaannya; yang berpotensi sesat dan bertaqwa. Sungguh menanglah mereka yang mensucikannya; Sungguh rugilah mereka yang mengotorinya." ( QS 91 : 7-10)
Dengan demikian ananiah atau jalan pintas untuk mengatasi rasa ketidakpastian tadi tidak akan tumbuh di dalam pribadi yang mau beribadah ihsan dan khusyu'.
Berdasarkan ayat-ayat ini, jelaslah bagi mereka yang sadar, bahwa pensucian pribadi melalui 'ibadah yang ihsan dan khusyu' bukanlah sekadar kewajiban pribadi, tapi lebih merupakan suatu kebutuhan muthlak, yang tak mungkin diabaikan.
Baca juga: Pintu Taubat bagi Orang Kafir dan Musyrik Masih Terbuka
Baca juga: Al-Qur'an Tegas Melarang Perkawinan dengan Orang Musyrik
Rasa cinta ini akan menumbuhkan percaya diri yang sangat tinggi di dalam pribadi kita, sehingga rasa ketidak-stabilan oleh karena ketidak-pastian tadi menjadi sirna sama sekali, maka bersihlah diri dari sikap was-was atau ragu akan kasih sayang Allah, sebagaimana difirmankan Allah di dalam al-Qur'an:
وَنَفۡسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا
فَاَلۡهَمَهَا فُجُوۡرَهَا وَتَقۡوٰٮهَا
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا
وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا
فَاَلۡهَمَهَا فُجُوۡرَهَا وَتَقۡوٰٮهَا
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا
وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا
"Demi pribadi dan penyempurnaannya; yang berpotensi sesat dan bertaqwa. Sungguh menanglah mereka yang mensucikannya; Sungguh rugilah mereka yang mengotorinya." ( QS 91 : 7-10)
Dengan demikian ananiah atau jalan pintas untuk mengatasi rasa ketidakpastian tadi tidak akan tumbuh di dalam pribadi yang mau beribadah ihsan dan khusyu'.
Berdasarkan ayat-ayat ini, jelaslah bagi mereka yang sadar, bahwa pensucian pribadi melalui 'ibadah yang ihsan dan khusyu' bukanlah sekadar kewajiban pribadi, tapi lebih merupakan suatu kebutuhan muthlak, yang tak mungkin diabaikan.
Baca juga: Pintu Taubat bagi Orang Kafir dan Musyrik Masih Terbuka
(mhy)
Lihat Juga :