Kisah Preman Pasar Ukaz Umar bin Khattab Masuk Islam
Jum'at, 20 Desember 2024 - 18:36 WIB
Haekal menjelaskan sumber yang dihubungkan kepada Umar ini merupakan sebuah gambaran yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal — dengan harapan kiranya dapat melengkapi apa yang sudah dilukiskan di atas — yang menyebutkan bahwa Umar berkata: "Saya pergi hendak menghadang Rasulullah SAW sebelum saya masuk Islam. Saya lihat dia sudah mendahului saya ke mesjid. Saya berdiri di belakangnya. Ia memulai bacaannya dengan surah al-Haqqah. Saya sungguh kagum dengan susunan Qur'an itu. Dalam hati saya berkata: Sungguh dia memang seorang penyair seperti dikatakan Quraisy."
Kemudian dibacanya: "Bahwa ini sungguh perkataan Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!" (QS Al-Haqqah:40-41). Kata saya, dia seorang dukun.
Kemudian dibacanya: "Juga bukan perkataan seorang peramal; sedikit sekali kamu mau menerima peringatan. (Ini adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya." (QS Al-Haqqah:42-47) sampai akhir surah. Maka Islam sungguh menyentuh hati saya begitu dalam."
Surat Thaha
Ada beberapa versi tentang masuknya Umar bin Khattab dalam Islam. Versi lain itu adalah Umar sangat marah tatkala mendengar adik perempuan dan iparnya sudah memeluk Islam.
Umar pun menemui adik perempuannya dan iparnya itu. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Qur'an membacakan kepada mereka Surah Thaha.
Baca juga: Begini Wasiat Umar bin Khattab kepada Khalifah Penggantinya
Begitu mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan:
"Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?"
"Saya tidak mendengar apa-apa," Fatimah menjawab.
"Tidak!" kata Umar lagi, "Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!" Ia berkata begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid keras-keras.
Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya, kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!"
Melihat darah di muka adiknya itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. "Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi," katanya. "Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!"
Fatimah berkata: "Kami khawatir akan Anda sia-siakan."
"Jangan takut," kata Umar. Lalu ia bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah selesai membacanya. Kitab itu diberikan oleh Fatimah.
Sesudah sebagian dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!"
Mendengar kata-kata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar dan katanya kepada Umar: "Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar ia berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam1 atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah, Umar!'"
Baca juga: Kisah Ubaidillah Putra Umar bin Khattab Membalas Dendam
Ketika itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan: "Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa."
Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berada.
Mendengar suaranya, salah seorang di antara mereka mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang.
Ia kembali ketakutan sambil berkata: "Rasulullah, Umar bin Khattab datang membawa pedang.
Tetapi Hamzah bin Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik; kalau bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri.
Ketika itu Rasulullah SAW berkata: "Izinkan dia masuk."
Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan. Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada Anda!"
"Rasulullah," kata Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah." Ketika itu juga Rasulullah bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk Islam.
Kemudian dibacanya: "Bahwa ini sungguh perkataan Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!" (QS Al-Haqqah:40-41). Kata saya, dia seorang dukun.
Kemudian dibacanya: "Juga bukan perkataan seorang peramal; sedikit sekali kamu mau menerima peringatan. (Ini adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya." (QS Al-Haqqah:42-47) sampai akhir surah. Maka Islam sungguh menyentuh hati saya begitu dalam."
Surat Thaha
Ada beberapa versi tentang masuknya Umar bin Khattab dalam Islam. Versi lain itu adalah Umar sangat marah tatkala mendengar adik perempuan dan iparnya sudah memeluk Islam.
Umar pun menemui adik perempuannya dan iparnya itu. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Qur'an membacakan kepada mereka Surah Thaha.
Baca juga: Begini Wasiat Umar bin Khattab kepada Khalifah Penggantinya
Begitu mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan:
"Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?"
"Saya tidak mendengar apa-apa," Fatimah menjawab.
"Tidak!" kata Umar lagi, "Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!" Ia berkata begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid keras-keras.
Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya, kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!"
Melihat darah di muka adiknya itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. "Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi," katanya. "Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!"
Fatimah berkata: "Kami khawatir akan Anda sia-siakan."
"Jangan takut," kata Umar. Lalu ia bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah selesai membacanya. Kitab itu diberikan oleh Fatimah.
Sesudah sebagian dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!"
Mendengar kata-kata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar dan katanya kepada Umar: "Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar ia berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam1 atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah, Umar!'"
Baca juga: Kisah Ubaidillah Putra Umar bin Khattab Membalas Dendam
Ketika itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan: "Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa."
Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berada.
Mendengar suaranya, salah seorang di antara mereka mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang.
Ia kembali ketakutan sambil berkata: "Rasulullah, Umar bin Khattab datang membawa pedang.
Tetapi Hamzah bin Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik; kalau bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri.
Ketika itu Rasulullah SAW berkata: "Izinkan dia masuk."
Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan. Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada Anda!"
"Rasulullah," kata Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah." Ketika itu juga Rasulullah bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk Islam.
(mhy)
Lihat Juga :