Kisah Ubaidillah Putra Umar bin Khattab Membalas Dendam
Jum'at, 22 Desember 2023 - 06:30 WIB
loading...
Peristiwa ini membuat Ubaidillah bin Umar merasakan dunia sudah berlumuran darah. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Khalifah Umar bin Khattab wafat setelah sebelumnya ditikam Abu Lu'lu'ah Fairuz, budak al-Mugirah. Tikaman itu mengenai bawah pusarnya memutuskan lapisan kulit bagian dalam dan usus lambung. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu tanggal 4 Zulhijah tahun ke-23 Hijri.
"Peristiwa ini membuat Ubaidillah bin Umar merasakan dunia sudah berlumuran darah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audahberjudul"Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Timbul kesan dalam hatinya bahwa semua orang asing di Madinah telah ikut berkomplot, dan semua tangan mereka sudah juga mengucurkan darah kejahatan. Tanpa ragu lagi ia, diambilnya pedangnya kemudian mulai dengan membunuh Hormuzan dan Jufainah.
Baca juga: Jelang Ajal, Umar bin Khattab Ingin Menyelesaikan Utang-utangnya
Ada sumber yang menyebutkan bahwa dia memanggil Hormuzan, dan setelah orang itu keluar ia berkata: "Mari kita pergi melihat kuda saya."
Kemudian ia mundur, dan sesudah orang itu berada di depannya dihunjamkannya pedangnya. Setelah terasa panasnya ia berkata: "La ilaha illallahu! dan dia tersungkur mati."
Disebutkan juga bahwa Ubaidillah bin Umar berkata: "Saya panggil Jufainah, seorang Nasrani Hirah, istrinya ibu susuan Sa'ad bin Abi Waqqas. Ia dibawa ke Madinah karena adanya pertalian susuan tadi, dan ia juga mengajar menulis di Madinah. Sesudah saya hantam dengan pedang ia membuat tanda salib di mukanya."
Tidak cukup dengan membunuh Hormuzan dan Jufainah, Ubaidillah juga membunuh anak perempuan Abu Lu'lu'ah yang masih kecil yang mengaku Islam. Ia ingin membunuh semua orang tawanan di Madinah.
Setelah penduduk Madinah mendengar apa yang dilakukannya itu, mereka cepat-cepat menemuinya. Kaum Muhajirin yang mula-mula juga mendatanginya, mencegah dan mengancamnya. Tetapi dia yang sedang dalam keadaan tak terkendalikan itu malah berkata: "Akan saya bunuh mereka yang lain!"
Baca juga: Jelang Ajal: Umar Melarang Hafsah Menangisinya, Minta Ditidurkan di Tanah
"Peristiwa ini membuat Ubaidillah bin Umar merasakan dunia sudah berlumuran darah," tulis Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audahberjudul"Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Timbul kesan dalam hatinya bahwa semua orang asing di Madinah telah ikut berkomplot, dan semua tangan mereka sudah juga mengucurkan darah kejahatan. Tanpa ragu lagi ia, diambilnya pedangnya kemudian mulai dengan membunuh Hormuzan dan Jufainah.
Baca juga: Jelang Ajal, Umar bin Khattab Ingin Menyelesaikan Utang-utangnya
Ada sumber yang menyebutkan bahwa dia memanggil Hormuzan, dan setelah orang itu keluar ia berkata: "Mari kita pergi melihat kuda saya."
Kemudian ia mundur, dan sesudah orang itu berada di depannya dihunjamkannya pedangnya. Setelah terasa panasnya ia berkata: "La ilaha illallahu! dan dia tersungkur mati."
Disebutkan juga bahwa Ubaidillah bin Umar berkata: "Saya panggil Jufainah, seorang Nasrani Hirah, istrinya ibu susuan Sa'ad bin Abi Waqqas. Ia dibawa ke Madinah karena adanya pertalian susuan tadi, dan ia juga mengajar menulis di Madinah. Sesudah saya hantam dengan pedang ia membuat tanda salib di mukanya."
Tidak cukup dengan membunuh Hormuzan dan Jufainah, Ubaidillah juga membunuh anak perempuan Abu Lu'lu'ah yang masih kecil yang mengaku Islam. Ia ingin membunuh semua orang tawanan di Madinah.
Setelah penduduk Madinah mendengar apa yang dilakukannya itu, mereka cepat-cepat menemuinya. Kaum Muhajirin yang mula-mula juga mendatanginya, mencegah dan mengancamnya. Tetapi dia yang sedang dalam keadaan tak terkendalikan itu malah berkata: "Akan saya bunuh mereka yang lain!"
Baca juga: Jelang Ajal: Umar Melarang Hafsah Menangisinya, Minta Ditidurkan di Tanah
Lihat Juga :