Keteladanan sang Cicit Rasulullah SAW, Ali bin Husain
Rabu, 05 Februari 2025 - 16:25 WIB
Sisi lain kisah ini tentang akhlak yang baik. Meski dicaci sedemikian rupa, Imam Ali Zainal Abidin tidak membalasanya dengan cacian, tetapi membalasnya dengan kebaikan. Beliau melarang pengikutnya menyakiti orang tersebut dan menghampirinya dengan penuh keramah-tamahan.
Sikapnya ini membuat sang pencaci malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu Dirham. Akhlak mulia inilah yang membuatnya bersaksi bahwa ia benar-benar keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Imam Abu 'Utsman Al-Hirri berkata:
"Akar tawadhu' ada tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, dan (3) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain." (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 480)
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta Yahudi
Sikapnya ini membuat sang pencaci malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu Dirham. Akhlak mulia inilah yang membuatnya bersaksi bahwa ia benar-benar keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Imam Abu 'Utsman Al-Hirri berkata:
أصل التواضع ثلاثة: أن يذكر العبد جهله ويعترف في الحال بتقصيره ولا ينظر إلي تقصير غيره
"Akar tawadhu' ada tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, dan (3) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain." (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 480)
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta Yahudi
(wid)
Lihat Juga :