Arti dan Makna Lailatul Qadar, Begini Penjelasan Prof Quraish Shihab
Rabu, 19 Maret 2025 - 05:00 WIB
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Ramadan 2025? Simak Penjelasannya di Sini!
Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadan karena Kitab Suci menginformasikan bahwa ia diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadan (QS 2:185) serta pada malam Al-Qadr (QS 97:1).
Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu Wa ma adraka ma laylat Al-Qadr.
Menurut Quraish, 13 kalimat ma adraka terulang dalam Al-Qur'an. Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti Ma adraka ma Yawm Al-Fashl, ... Al-Haqqah ... 'illiyyun, dan sebagainya.
Quraish mengatakan kesemuanya itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. “Dari ketiga belas kali ma adraka itu terdapat tiga kali yang mengatakan: Ma adraka ma al-thariq, Ma adraka ma al-aqabah, dan Ma adraka ma laylat al-qadr,” tuturnya.
Kalau dilihat pemakaian Al-Qur'an tentang hal-hal yang menjadi objek pertanyaan, maka kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia. Hal ini tentunya termasuk Laylat Al-Qadr.
Walaupun demikian, menurut Quraish, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan oleh Al-Qur'an dalam tiga ayat.
Wa ma yudrika la 'alla al-sa'ata takunu qariba ( Al-Ahzab : 63)
Wa ma yudrika la'alla al-sa'ata qarib ... ( Al-Syura :17)
Wajib Mengimani
Quraish Shihab menegaskan setiap muslim wajib mengimani apa yang dinyatakan Al-Qur'an, bahwa "Ada suatu malam yang bernama Laylat Al-Qadr" ( QS 97 :1) dan bahwa malam itu adalah "malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan" ( QS 44 :3).Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadan karena Kitab Suci menginformasikan bahwa ia diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadan (QS 2:185) serta pada malam Al-Qadr (QS 97:1).
Malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu Wa ma adraka ma laylat Al-Qadr.
Menurut Quraish, 13 kalimat ma adraka terulang dalam Al-Qur'an. Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang terkait dengan hari kemudian, seperti Ma adraka ma Yawm Al-Fashl, ... Al-Haqqah ... 'illiyyun, dan sebagainya.
Quraish mengatakan kesemuanya itu merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. “Dari ketiga belas kali ma adraka itu terdapat tiga kali yang mengatakan: Ma adraka ma al-thariq, Ma adraka ma al-aqabah, dan Ma adraka ma laylat al-qadr,” tuturnya.
Kalau dilihat pemakaian Al-Qur'an tentang hal-hal yang menjadi objek pertanyaan, maka kesemuanya adalah hal-hal yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia. Hal ini tentunya termasuk Laylat Al-Qadr.
Walaupun demikian, menurut Quraish, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan oleh Al-Qur'an dalam tiga ayat.
Wa ma yudrika la 'alla al-sa'ata takunu qariba ( Al-Ahzab : 63)
Wa ma yudrika la'alla al-sa'ata qarib ... ( Al-Syura :17)
Lihat Juga :