Imajinasi atau Nyata: Al-Khidir dan Nabi Ilyas AS Masih Hidup?
Sabtu, 05 September 2020 - 05:00 WIB
Pada waktu itu mereka berjumlah 313 orang laki-laki yang dikenal dengan nama-nama mereka, nama-nama dari bapak-bapak mereka dan suku-suku mereka. Maka, di manakah Al-Khidir pada waktu itu?
Al-Qur'an dan Sunnah serta pembicaraan para peneliti ummat menyangkal masih adanya kehidupan Al-Khidir seperti anggapan mereka. Sebagaimana firman Allah Taala di atas.
Jika Al-Khidir itu manusia, maka ia tidak akan kekal, karena hal itu ditolak Al-Qur'anul Karim dan Sunnah yang suci. Seandainya ia masih hidup, tentulah ia datang kepada Nabi SAW.
Baca juga: Tanggapi Tuduhan Politikus PDIP, Mardani PKS: Mari Berkompetisi Secara Sehat
Nabi SAW telah bersabda, "Demi Allah, andaikata Musa masih hidup, tentu ia akan mengikuti aku." (HR Ahmad, dari Jabir bin Abdullah) .
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat jika Al-Khidir seorang Nabi, maka ia tidak lebih utama daripada Musa AS, dan jika seorang wali, tidaklah ia lebih utama daripada Abu Bakar RA.
Apakah hikmahnya sehingga ia hidup hingga kini - sebagaimana anggapan orang-orang - di padang luas, gurun dan gunung-gunung? Apakah faedahnya syar'iyah maupun akliah di balik ini? Sesungguhnya orang-orang selalu menyukai cerita-cerita ajaib dan dongeng-dongeng fantastis. Mereka menggambarkannya menurut keinginan mereka, sedangkan hasil dari imajinasinya, mereka gunakan sebagai baju keagamaan.
Baca juga: Australia Resesi, Awas! Investasi RI Terancam Ambyar
Cerita ini disebarkan diantara sebagian orang awam dan mereka menganggapnya berasal dari agama mereka, padahal sama sekali bukan dari agama. Hikayat-hikayat yang diceritakan tentang Al-Khidir hanyalah rekayasa manusia dan tidak diturunkan oleh Allah hujjah untuk itu.
Adapun mengenai pertanyaan: Apakah ia seorang Nabi atau wali?
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Tampaknya yang lebih tepat Al-Khidir adalah seorang Nabi, sebagaimana tercantum pada ayat yang mulia dari Surat Al-Kahfi, "... dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri ..." (QS Al-Kahfi: 82).
Baca juga: Jalan Terjal Calon Independen
Perkataan itu adalah dalil bahwa ia melakukan itu berdasarkan perintah Allah dan wahyu-Nya, bukan dari dirinya. Lebih tepatnya dia adalah seorang Nabi bukan wali. Wallahu'alam.
Al-Qur'an dan Sunnah serta pembicaraan para peneliti ummat menyangkal masih adanya kehidupan Al-Khidir seperti anggapan mereka. Sebagaimana firman Allah Taala di atas.
Jika Al-Khidir itu manusia, maka ia tidak akan kekal, karena hal itu ditolak Al-Qur'anul Karim dan Sunnah yang suci. Seandainya ia masih hidup, tentulah ia datang kepada Nabi SAW.
Baca juga: Tanggapi Tuduhan Politikus PDIP, Mardani PKS: Mari Berkompetisi Secara Sehat
Nabi SAW telah bersabda, "Demi Allah, andaikata Musa masih hidup, tentu ia akan mengikuti aku." (HR Ahmad, dari Jabir bin Abdullah) .
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat jika Al-Khidir seorang Nabi, maka ia tidak lebih utama daripada Musa AS, dan jika seorang wali, tidaklah ia lebih utama daripada Abu Bakar RA.
Apakah hikmahnya sehingga ia hidup hingga kini - sebagaimana anggapan orang-orang - di padang luas, gurun dan gunung-gunung? Apakah faedahnya syar'iyah maupun akliah di balik ini? Sesungguhnya orang-orang selalu menyukai cerita-cerita ajaib dan dongeng-dongeng fantastis. Mereka menggambarkannya menurut keinginan mereka, sedangkan hasil dari imajinasinya, mereka gunakan sebagai baju keagamaan.
Baca juga: Australia Resesi, Awas! Investasi RI Terancam Ambyar
Cerita ini disebarkan diantara sebagian orang awam dan mereka menganggapnya berasal dari agama mereka, padahal sama sekali bukan dari agama. Hikayat-hikayat yang diceritakan tentang Al-Khidir hanyalah rekayasa manusia dan tidak diturunkan oleh Allah hujjah untuk itu.
Adapun mengenai pertanyaan: Apakah ia seorang Nabi atau wali?
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Tampaknya yang lebih tepat Al-Khidir adalah seorang Nabi, sebagaimana tercantum pada ayat yang mulia dari Surat Al-Kahfi, "... dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri ..." (QS Al-Kahfi: 82).
Baca juga: Jalan Terjal Calon Independen
Perkataan itu adalah dalil bahwa ia melakukan itu berdasarkan perintah Allah dan wahyu-Nya, bukan dari dirinya. Lebih tepatnya dia adalah seorang Nabi bukan wali. Wallahu'alam.
(mhy)
Lihat Juga :