Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf
Minggu, 06 September 2020 - 06:23 WIB
Duduk sendiri dalam kemahnya ia menjadi begitu tenggelam dalam keadaan ini melelehkan airmata kesedihan dan mendesahkan keluh kerinduan --siang berganti malam dan malam berganti siang, semakin hebat juga tangis dan keluhnya.
Akhirnya Mahmud mendengarnya dan memanggilnya, "Jangan menangis dan meratap," katanya, "Tuan seorang raja dan aku akan memberi Tuan seratus kerajaan pengganti kerajaan Tuan yang telah hilang."
"O Syah Alam," jawab si Hindu, "aku tak meratapi kerajaanku yang hilang atau kemuliaanku. Aku menangis, karena pada hari kebangkitan, Tuhan, pemilik seri keagungan, akan berkata padaku, 'O orang yang tak setia, kautaburkan padaku biji penghinaan. Sebelum Mahmud menyerangmu, kau tak pernah memikirkan daku. Baru ketika kau terpaksa membawa tentaramu melawan dia dan kehilangan segalanya, kau ingat padaku. Adilkah ini pada pendapatmu?, O Raja yang masih muda, adalah karena aku merasa malu maka aku menangis dalam usiaku yang setua ini."
Baca juga: Aplikasi Belajar Bahasa Inggris Neo Bisa Diakses Kartu Prakerja
Dengarkan kata-kata tentang keadilan dan keimanan; dengarkan ajaran dalam Diwan Kitab-kitab Suci. Bila kau punya keimanan, tempuhlah perjalanan yang kuanjurkan padamu. Tetapi akankah ia yang tak ada dalam daftar kesetiaan terdapat dalam bab kelapangan hati!
Tentara Muslim dan Tentara Salib
Seorang Muslim dan seorang Nasrani tengah berperang-tanding, dan saatnya tiba bagi si Muslim untuk melakukan sembahyang yang ditentukan, maka dimintanya pertangguhan waktu dari si Nasrani.
Perajurit Salib itu setuju, maka si Muslim pun pergi menyisi dan bersembahyang. Ketika ia kembali, mereka pun lalu memulai perjuangan itu kembali dengan tenaga baru.
Sebentar kemudian si tentara Salib minta dilakukan gencatan senjata untuk melakukan sembahyangnya pula. Setelah ini diterima, ia pun mengundurkan diri, dan setelah memilih tempat yang sesuai, ia pun berlutut di debu di muka patung pujaannya.
Baca juga: Kewenangan Dipangkas, OJK Melawan
Ketika si Muslim melihat musuhnya berlutut dengan kepala tunduk, ia pun berkata dalam hati, "Inilah kesempatan bagiku untuk mendapat kemenangan," sambil merencanakan hendak memukulnya dengan mengkhianati perjanjian.
Tetapi sebuah suara batin berkata, "O orang tak beriman yang hendak mengkhianati kesanggupanmu, beginikah caranya kau memegang janjimu? Si kafir tak menghunus pedang melawanmu ketika kauminta gencatan senjata. Tiadakah ingat akan sabda Quran, 'Peganglah janjimu dengan setia,. Karena seorang kafir telah bermurah hati padamu, janganlah mangkir terhadapnya. Ia telah berbuat baik, dan kau hendak berbuat jahat. Berbuatlah padanya sebagaimana ia telah berbuat padamu. Adakah kau, sebagai Muslim, tak patut dipercaya?"
Akhirnya Mahmud mendengarnya dan memanggilnya, "Jangan menangis dan meratap," katanya, "Tuan seorang raja dan aku akan memberi Tuan seratus kerajaan pengganti kerajaan Tuan yang telah hilang."
"O Syah Alam," jawab si Hindu, "aku tak meratapi kerajaanku yang hilang atau kemuliaanku. Aku menangis, karena pada hari kebangkitan, Tuhan, pemilik seri keagungan, akan berkata padaku, 'O orang yang tak setia, kautaburkan padaku biji penghinaan. Sebelum Mahmud menyerangmu, kau tak pernah memikirkan daku. Baru ketika kau terpaksa membawa tentaramu melawan dia dan kehilangan segalanya, kau ingat padaku. Adilkah ini pada pendapatmu?, O Raja yang masih muda, adalah karena aku merasa malu maka aku menangis dalam usiaku yang setua ini."
Baca juga: Aplikasi Belajar Bahasa Inggris Neo Bisa Diakses Kartu Prakerja
Dengarkan kata-kata tentang keadilan dan keimanan; dengarkan ajaran dalam Diwan Kitab-kitab Suci. Bila kau punya keimanan, tempuhlah perjalanan yang kuanjurkan padamu. Tetapi akankah ia yang tak ada dalam daftar kesetiaan terdapat dalam bab kelapangan hati!
Tentara Muslim dan Tentara Salib
Seorang Muslim dan seorang Nasrani tengah berperang-tanding, dan saatnya tiba bagi si Muslim untuk melakukan sembahyang yang ditentukan, maka dimintanya pertangguhan waktu dari si Nasrani.
Perajurit Salib itu setuju, maka si Muslim pun pergi menyisi dan bersembahyang. Ketika ia kembali, mereka pun lalu memulai perjuangan itu kembali dengan tenaga baru.
Sebentar kemudian si tentara Salib minta dilakukan gencatan senjata untuk melakukan sembahyangnya pula. Setelah ini diterima, ia pun mengundurkan diri, dan setelah memilih tempat yang sesuai, ia pun berlutut di debu di muka patung pujaannya.
Baca juga: Kewenangan Dipangkas, OJK Melawan
Ketika si Muslim melihat musuhnya berlutut dengan kepala tunduk, ia pun berkata dalam hati, "Inilah kesempatan bagiku untuk mendapat kemenangan," sambil merencanakan hendak memukulnya dengan mengkhianati perjanjian.
Tetapi sebuah suara batin berkata, "O orang tak beriman yang hendak mengkhianati kesanggupanmu, beginikah caranya kau memegang janjimu? Si kafir tak menghunus pedang melawanmu ketika kauminta gencatan senjata. Tiadakah ingat akan sabda Quran, 'Peganglah janjimu dengan setia,. Karena seorang kafir telah bermurah hati padamu, janganlah mangkir terhadapnya. Ia telah berbuat baik, dan kau hendak berbuat jahat. Berbuatlah padanya sebagaimana ia telah berbuat padamu. Adakah kau, sebagai Muslim, tak patut dipercaya?"
Lihat Juga :