Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya.
Selasa, 08 September 2020 - 06:29 WIB
Bila ia menamakan aku hamba-Nya, maka kalian akan tahu bahwa demikianlah adanya. Bila tidak, maka Ia telah meninggalkan aku pada perjanjian yang mengikatku. Karena tak mudah mencapai persatuan, dengan Tuhan, adakah pantas bagiku untuk memanggil Dia Junjunganku?
Jika Ia tak berkenan dengan pengabdianku, bagaimana dapat aku mengaku bertuan padaNya? Memang benar bahwa aku telah menundukkan kepalaku tetapi perlu pula kiranya bahwa Dia menamakan aku hamba-Nya'."
Mahmud di Bilik-Panas Hammam
Suatu malam Mahmud, dalam keadaan sedih, pergi ke hamman dengan menyamar. Seorang pelayan muda menyambutnya dan menyediakan segala yang perlu untuk dapat berkeringat dengan bertangas pada perbaraan yang panas. Kemudian disuguhkannya pada Sultan sekadar roti kering, dan Sultan pun menyantapnya.
Lalu kata Sultan dalam hati, "Kalau tadi pelayan ini keberatan menerimaku, tentulah akan kusuruh penggal kepalanya."
Akhirnya Sultan mengatakan pada orang muda itu akan kembali ke istananya. Kata orang muda itu, "Tuanku telah menyantap makanan hamba Tuanku telah mengetahui tempat tidur hamba, dan Tuanku telah menjadi tamu hamba. Hamba akan selalu suka menerima Tuanku. Meskipun dalam kenyataannya kita berasal dari zat yang sama, namun dalam hal-hal lahiriah, bagaimana dapat Tuanku diperbandingkan dengan seorang yang berkedudukan rendah seperti hamba ini?"
Baca juga: KPK Tegaskan Tak Akan Menunda Proses Hukum Calon Kepala Daerah
Sultan amat berkenan dengan jawaban ini, sehingga tujuh kali lagi ia pergi sebagai tamu pelayan itu. Pada kesempatan terakhir dikatakannya pada pelayan itu agar mengajukan satu permohonan. "Bila hamba, sebagai pengemis ini, harus mengajukan suatu permohonan," kata pelayan itu, "Sultan tentu tak akan mengabulkannya."
"Mintalah apa yang kau inginkan," kata Sultan, "meskipun itu berupa permintaan untuk meninggalkan hammam dan menjadi raja."
"Hanya satu saja permohonan hamba," kata si pelayan, "yaitu, bahwa hendaknya Sultan akan terus menjadi tamu hamba. Menjadi pelayan-mandi yang duduk di dekat Tuanku dalam bilik-panas lebih baik daripada menjadi raja di sebuah taman tak bersama Tuanku. Karena kemujuran telah datang pada hamba lantaran bilik-panas ini, maka tak tahu berterimakasihlah hamba ini bila hamba tinggalkan bilik ini. Kehadiran Tuanku telah menerangi tempat ini; apakah yang lebih baik dapat hamba minta selain diri Tuanku sendiri?"
Lihat Juga :