Kisah Sahabat Nabi : Azan Terakhir Bilal bin Rabah

Rabu, 06 Agustus 2025 - 19:30 WIB
Ketika waktu salat telah tiba, dengan pijakkan kaki yang teguh, Bilal menaiki tangga ke tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan Adzan. Ia menarik nafas dalam, memulai suaranya. Lantunan kumandang Azan pun menyapa pendengaran banyak orang.

“Allahuakbar Allahuakbar….” Bilal memulai Azan, Kota Madinah tiba-tiba saja menjadi senyap. Penduduk Madinah terkejut. Suara yang telah hilang selama bertahun-tahun terdengar lagi.

Ketika sampai pada kalimat, “Asyhadu an laa ilaha illallah….” orang-orang berlari dari segala penjuru menuju sumber suara itu. “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…. ” sedu-sedan tangis penduduk Madinah menggema, air mata mereka membanjir. Luapan rindu yang dalam kepada Sang Utusan, Muhammad SAW tak terbendung sudah. Mereka menangis.

Terkenanglah masa-masa saat Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah mereka. Bilal sendiri yang tengah azan pun tercekat, dia tidak sanggup meneruskannya. Air matanya berderai-derai di pipi.

Hari itu, Madinah berluapan rasa rindu nan syahdu. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Muhammad SAW.

Lantunan azan Bilal bin Rabah-lah yang memulainya, yang memantiknya menjadi nyala cahaya. Itulah Azan terakhir dalam usia senja sang muazin pertama dunia. Azan yang tak pernah dia bisa tuntaskan karena terlalu sedih.

Dialog Menjelang Ajal

Menjelang ajalnya di Suriah, Bilal terbaring di atas tempat tidur, sementara istrinya duduk di sampingnya seraya berkata, “Sungguh menyedihkan musibah yang kualami!”

Bilal menjawab, “Justru inilah saat kebahagiaan dan kesenangan. Tahukah engkau bahwa kematian merupakan sesuatu yang membahagiakan?”

Istrinya berkata, “Saat perpisahan telah tiba.”

Bilal mengatakan: “Saat perjumpaan telah datang.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!