Kisah-kisah Isra Mikraj (1): Di Mana Letak Sidratul Muntaha?

Selasa, 06 Januari 2026 - 05:15 WIB
Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan dan ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7. Foto ilustrasi/ist
Kisah-kisah Isra Mikraj ini sengaja disajikan menjelang peringatan peristiwa agung Isra Mikraj 27 Rajab mendatang. Dalam kalender Masehi, peringatan Isra Mikraj ini jatuh pada tanggal 16 Januari 2026 nanti.

Salah satu kisah dalam Isra Mikraj atau perjalanan agung Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, yakni Baginda Rasul berhenti di tempat terakhir di Sidratul Muntaha (سدرة المنتهى). Nabi SAW melakukan perjalanan istimewa dari Masjidil Haram Mekkah hingga ke tempat tertinggi Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam.

Seperti apakah sebenarnya Sidratul Muntaha? Secara etimologi "Sidrah" bermakna daun, sedangkan "Muntaha" bermakna puncak atau penghabisan. Secara istilah Sidrah Al-Muntaha diibaratkan semacam stasiun akhir yang menjadi tujuan akhir perjalanan Mikraj Nabi.

Hal tersebut diungkapkan Nabi dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud: "Perjalananku berhenti di Sidratul Muntaha."

Dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha'sha'ah, dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

"Kemudian aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha". Lalu Nabi mengisahkan: "Bahwasanya daunnya seperti telinga gajah dan bahwa buahnya seperti bejana batu". Hadis ini dikeluarkan dalam ash-Shahihain dari Hadis Ibnu Abi Arubah. Hadis riwayat Al-Baihaqi. Asal hadits ini ada pada riwayat Al-Bukhari 3207 dan Muslim 164.

Baca juga: Fakta-fakta Tentang Salat, Perintah Allah SWT Langsung dalam Peristiwa Isra Mikraj

Ketika Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha, beliau diselimuti awan yang berwarna-warni. Itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan Nabi Muhammad SAW melihat wujud Malaikat Jibril dengan 600 sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan Yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan, dinamakan Sidratul Muntaha (pohon puncak) karena ilmu Malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah SAW. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dinamakan Sidratul Muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana." (Ta'liqat 'ala Shahih Muslim, Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1/145).

Riwayat lain, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya: "Wahai Jibril, apakah keduanya ini?" Dia menjawab, "Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat." (HR Al-Bukhari 3207)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!