Kisah-kisah Isra Mikraj (1): Di Mana Letak Sidratul Muntaha?
Selasa, 06 Januari 2026 - 05:15 WIB
Nabi diangkat ke tempat sangat tinggi hingga beliau mendengar suara goretan Al-Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla tanpa ditemani Jibril. Beliau menerima perintah sholat 50 waktu dari sang Khaliq.
Ketika hendak turun, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa di langit ke-6. Nabi Musa meminta Rasulullah SAW kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan.
Dai lulusan Mesir, Ustaz Miftah el-Banjari mengatakan, Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan dan ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7. Hal ini berdasarkan penjelasan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitabnya "Huwa fi Ufuq al-'Ala
Menurut Ustaz Miftah, Sidratul Muntaha yang dimasuki Rasulullah SAW menerima perintah sholat 50 hingga 5 waktu adalah Sidratul Muntaha yang berada di level langit ke-6. Sebab hal itu lebih memungkinkan seringnya berjumpa dan berdialog dengan Nabi Musa yang sama-sama berada di level tingkatan yang sama.
Pertanyaannya, di manakah Nabi Muhamamd SAW berjumpa dengan Allah? Apakah di Sidratul Muntaha atau di luar itu? Jika dikatakan perjumpaan dengan Allah 'Azza wa Jalla di Sidratul Muntaha, maka Sidrah itu tempat, Sidratul Muntaha itu dimensi ruang, dan mustahil bagi Allah menempati ruang atau dimensi.
Memang, Al-Qur'an maupun hadis tidak menyebutkan secara eksplisit dimana perjumpaan itu terjadi, melainkan hanya menyebutkan kedekatan jarak perjumpaan itu, meskipun lagi-lagi menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki bahwa mustahil Allah berhajat pada jarak maupun arah jihah.
Meskipun perjalanan Mikraj Nabi menembus dimensi ruang dan waktu melampui 7 tingkatan langit, tapi Allah dengan sifat Qudus-Nya, tetap tidak bertempat. Allah tidak membutuhkan tempat, tidak berhajat pada tempat, tidak pula di langit, tidak di Sidratul Muntaha dan Dia tetap bersifat "Laitsa Kamitslihi Syai'un" (berbeda dengan makhluk).
Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang wajib diyakini dan dijaga. Jangan sampai terjebak pada akidah "Allah fis Samaa".
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Waktu Salat Fardhu
Ketika hendak turun, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa di langit ke-6. Nabi Musa meminta Rasulullah SAW kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan.
Dai lulusan Mesir, Ustaz Miftah el-Banjari mengatakan, Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan dan ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7. Hal ini berdasarkan penjelasan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitabnya "Huwa fi Ufuq al-'Ala
Menurut Ustaz Miftah, Sidratul Muntaha yang dimasuki Rasulullah SAW menerima perintah sholat 50 hingga 5 waktu adalah Sidratul Muntaha yang berada di level langit ke-6. Sebab hal itu lebih memungkinkan seringnya berjumpa dan berdialog dengan Nabi Musa yang sama-sama berada di level tingkatan yang sama.
Pertanyaannya, di manakah Nabi Muhamamd SAW berjumpa dengan Allah? Apakah di Sidratul Muntaha atau di luar itu? Jika dikatakan perjumpaan dengan Allah 'Azza wa Jalla di Sidratul Muntaha, maka Sidrah itu tempat, Sidratul Muntaha itu dimensi ruang, dan mustahil bagi Allah menempati ruang atau dimensi.
Memang, Al-Qur'an maupun hadis tidak menyebutkan secara eksplisit dimana perjumpaan itu terjadi, melainkan hanya menyebutkan kedekatan jarak perjumpaan itu, meskipun lagi-lagi menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki bahwa mustahil Allah berhajat pada jarak maupun arah jihah.
Meskipun perjalanan Mikraj Nabi menembus dimensi ruang dan waktu melampui 7 tingkatan langit, tapi Allah dengan sifat Qudus-Nya, tetap tidak bertempat. Allah tidak membutuhkan tempat, tidak berhajat pada tempat, tidak pula di langit, tidak di Sidratul Muntaha dan Dia tetap bersifat "Laitsa Kamitslihi Syai'un" (berbeda dengan makhluk).
Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang wajib diyakini dan dijaga. Jangan sampai terjebak pada akidah "Allah fis Samaa".
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Waktu Salat Fardhu
(wid)
Lihat Juga :