Khotbah Jumat : Isra Mikraj dan Kualitas Salat

Jum'at, 16 Januari 2026 - 05:15 WIB
Di bulan inilah sebuah peristiwa ghaib yang tak masuk akal dan hanya dipercayai oleh orang-orang yang beriman terjadi, yakni peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi peristiwa ghaib yang harus diterima oleh keimanan terlebih dahulu sebelum akal kita. Pengertian Isra ini sendiri adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina yang berjarak lebih kurang 1.500 Kilometer.

Sedangkan Mikraj adalah perjalanan beliau dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha yakni tempat di langit yang bersifat ghaib, tidak mungkin dijangkau oleh pancaindra manusia, bahkan tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Dua perjalanan ini ditempuh Nabi Muhammad SAW hanya dalam satu malam.

Peristiwa agung ini diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


Artinya: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah!

Dalam perjalanan spiritual ini, Nabi Muhammad mendapatkan "oleh-oleh" yang sangat monumental dan menjadi hal yang paling sering disebut pada bulan Rajab yakni perintah salat lima waktu. Maka kurang lengkap rasanya jika peringatan Isra Mi'raj yang sering dilakukan masyarakat di Indonesia tidak mengangkat dan membahas tentang salat.

Baik pembahasan tentang salat dari perspektif fiqih, tasawuf, kesehatan, maupun dari perspektif lain yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Pembahasan tentang salat ini penting untuk diingatkan kembali kepada umat Islam pada bulan Rajab ini sebagai upaya untuk menguatkan kembali kesadaran bahwa salat adalah sebuah kebutuhan bagi umat Islam.

Bukan hanya sekedar kewajiban saja. Mengapa kita butuh? Karena salat menjadi satu media penting untuk mendekatkan diri dan menyembah Allah. Dengan salat kita telah menunjukkan komitmen untuk menjalankan misi utama diciptakannya manusia ke dunia yakni untuk beribadah. Hal ini sudah disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Ad-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ


Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah!

Dalam pelaksanaan salat, penting untuk diingat oleh kita semua untuk senantiasa mengedepankan kualitas sholat. Bukan hanya kuantitas salat saja. Kewajiban salat yang difokuskan kepada kuantitas atau jumlah saja akan menjadikan diri terbebani dalam menjalankannya.

Jika kewajiban salat kita kerjakan dengan mengedepankan kualitas, maka salat yang dilakukan akan benar-benar bisa dinikmati dan akan berdampak pada perilaku serta kualitas kehidupan kita. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

يأَتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلّوْنَ وَلاَ يُصَلُّوْنَ


Artinya: "Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan sholat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!