Kisah Sahabat yang Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian

Kamis, 17 September 2020 - 05:05 WIB
Setelah berlalu masa 20 tahun atau lebih dari hari yang kita sebutkan tadi, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah sebatang kara. Setelah sebatang kara pula ia menempuh hidup yang luar biasa yang tak seorang pun dapat menyamainya.

(Baca Juga: Sekda DKI Jakarta Meninggal, Malaysia Turut Ucapkan Duka Cita )

Dalam lembaran sejarah, Abu Dzar muncul sebatang kara yakni orang satu-satunya yang paling zuhud, tegas melawan kebatilan. Kemudian di sisi Allah kelak ia akan dibangkitkan sebagai tokoh satu-satunya pula. Jasa-jasanya terhadap agama Allah tidak ada yang menyamainya. Allah Ta'ala memuliakan beliau berkat perjuangan dan kegigihannya membela agama Allah dan Rasul-Nya.

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu bernama asli Jundub bin Janadah. Beliau adalah seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, dan sahabat yang sangat zuhud.

Beliau adalah sahabat paling radikal dalam menegakkan risalah Islam. Radikal dalam hal ini bukan bermakna negatif. Beliau paling revolusioner, sikapnya tegas dalam melawan kebathilan. Atas sikapnya itu, beliau pun menerima resiko berat. Luka akibat dipukuli, berbagai dintimidasi hingga pingsan kerap diamalinya dan sedikit pun tidak menyurutkannya dalam menegakkan kebenaran Islam di hadapan kaum musyrik Makkah.

Bahkan terhadap sahabat Nabi yang dianggapnya melenceng dari kebenaran, beliau nasihati tanpa pandang bulu. Ini juga yang membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم kagum dan takjub hingga menyampaikan ucapan istimewa kepadanya. "Takkan pernah lagi dijumpai di bawahlangit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar ". (Baca Juga: Perang Khandaq dan Ramalan Masa Depan Kejayaan Islam )

Zuhudnya Abu Dzar Al-Ghifari

Pada suatu hari Abu Dzar ditawarkan sebuah jabatan sebagai amir di Irak. Beliau berkata: "Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan duniauntuk selama-lamanya!"

Pada kesempatan lain, seorang sahabat melihatnya memakai jubah usang, "Bukankah anda masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru!"

Jawab Abu Dzar : "Wahai putra saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku!"
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!