Lebaran Ketupat : Tradisi Syawalan Peninggalan Wali Songo

Sabtu, 28 Maret 2026 - 05:15 WIB
Kenapa mesti dibungkus janur? Janur, diambil dari bahasa Arab Ja'a nur (telah datang cahaya), bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia, saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? Karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

Dari sisi isinya ketupat dibuat dengan berbahan dasar beras dan santan. Beras yang dimasukkan ke dalam janur yang sudah dianyam dan kemudian menjadi gumpalan yang sangat kempal menunjukkan bahwa kita harus selalu menjaga kerukunan dan kebersaman pada sesama masyarakat.

Biasanya, beras ini juga dicampur santan yang artinya sedoyo lepat nyuwun pangapunten, biasa disingkat menjadi santan. Artinya dalam kita menjaga kerukunan dan kebersamaan kita juga harus saling menghormati, memaafkan dan sadar akan dirinya sendiri tepo seliro dan saling memaafkan

Puji Rahayu mengatakan tradisi Kupatan/Syawalan merupakan tradisi asli Indonesia dan hanya dilakukan di Indonesia sejak datangnya para Wali Songo yang telah mengubah budaya Hindu-Buddha menjadi model ke-Islaman tanpa harus radikal.

Para wali memanfaatkan pemikiran orang-orang Jawa yang suka/percaya akan simbol-simbol tertentu yang mereka anggap mempunyai kesakralan. Pada hakikatnya ketupat bagi orang Jawa mempunyai filosofi mendalam untuk diamalkan.

Tradisi Syawalan

Tradisi Syawalan juga disebut sedekah laut biasa dilakukan masyarakat pesisir Jawa misalnya di wilayah-wilayah pantai di Cilacap, Tegal, Pekalongan, Batang, Weleri, Kendal, Kaliwungu, Demak, Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan sebagainya.

Syawalan atau sedekah laut serta tradisi-tradisi lainnya dalam pandangan Antropolog Ruth Benedict (1959) merupakan salah satu konstruk kebudayaan suatu masyarakat tertentu.

Menurutnya, pada setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai tertentu yang mendominasi ide yang berkembang. Dominasi ide tertentu dalam masyarakat akan membentuk dan mempengaruhi aturan-aturan bertindak masyarakatnya (rules of conduct) dan aturan-aturan bertingkah laku (rules of behavior) yang kemudian secara bersama-sama membentuk pola kultural masyarakat.

Semua adat kebiasaan atau tradisi-tradisi tersebut memiliki nalar kebudayaan yang melatarbelakanginya; selain ini juga memiliki makna luhur bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa sebagai sebuah tradisi yang sangat populer, Syawalan memiliki latarbelakang nalar kebudayaan serta makna yang luhur tersebut.

Baca juga: Pentingnya Mengingat Kematian, Ajal Datang Sesuai Kebiasaan Hidup
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!