Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Kiblat Ekonomi Umat

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:01 WIB

Membangun Pasar

Madinah mempunyai empat pasar di tempat-tempat berikut: Zubala, Wadi Buthan di Qaynuqa, as-Safasif dan Muzahim atau Zuqaq. Dua di antaranya dikuasai oleh suku-suku Yahudi sedangkan dua lainnya dikuasai oleh kaum pagan .

Keempat pasar ini terletak di berbagai bagian kota-kota dalam gugusan tersebut di seluruh Madinah. Pasar-pasar ini dikenal karena hambatan masuk yang tinggi, pajak yang tinggi, dan praktik-praktik yang tidak jujur.

Nabi Muhammad SAW mengetahui bahwa pertumbuhan ekonomi Islam bergantung pada pasar, dan pasar yang ada saat itu penuh dengan ketidakadilan. Beliau segera berupaya untuk mendirikan pasar.

Narasi tersebut menyebutkan bahwa ia sendiri melakukan survei lahan untuk menentukan lokasi yang ideal. Ia mengunjungi dua lokasi berbeda yang tidak memenuhi standar dan kriterianya.

Setelah itu, seorang sahabat datang dan meminta survei terhadap lokasi yang telah ia temukan. Setelah melihat lokasi yang diusulkan tersebut, Nabi menetapkan, “Inilah pasar kalian; perdagangan tidak boleh dihentikan dan tidak boleh ada yang dilarang berdagang, tidak boleh ada praktik curang dan tidak boleh ada pajak yang dipungut.”

Lokasi pasar ini strategis secara ekonomi di barat laut kota. Pasar ini merupakan ruang terbuka luas tempat kafilah dagang biasanya datang dan turun. Pasar ini terletak berdekatan dengan “pintu masuk utama alami” ke kota di dekat jalur pegunungan.

Lokasi ini tidak hanya memfasilitasi perdagangan lokal, tetapi juga membuka pintu bagi perdagangan internasional, impor, dan ekspor.

Aturan pasar

Ketetapan Nabi menguraikan beberapa prinsip ekonomi utama tentang bagaimana pasar Islam di Madinah berfungsi:

- Kekuatan pasar dibiarkan beroperasi secara bebas dalam parameter Syariah yang telah ditentukan tanpa tunduk sepenuhnya kepada perencana pusat.

- Hambatan masuk yang menghalangi calon pelaku pasar untuk memasuki pasar telah dihapuskan. Dengan demikian, Nabi meniadakan kebutuhan akan izin regulasi, lisensi, dan tidak mengizinkan pemberian perlakuan istimewa kepada perusahaan yang sudah ada dengan melindungi pendapatan mereka. Beliau membuka lapangan bermain yang setara bagi semua pelaku pasar dengan memberikan akses bebas dan terbuka kepada semua orang untuk memulai bisnis di pasar.

- Penghapusan hambatan masuk melambangkan prinsip ekonomi penting lainnya: pemberian insentif. Nabi menunjukkan bagaimana orang menanggapi potensi imbalan. Beliau mengajarkan bagaimana suatu ekonomi perlu memberikan insentif. Akses bebas ke pasar merupakan insentif utama bagi para pengusaha. Pasar-pasar lain di Madinah memiliki hambatan masuk yang menyulitkan untuk memulai perdagangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!