Jelang Puncak Haji, Musyrif Dini Asrorun Niam Jelaskan Amalan saat Wukuf di Arafah

Senin, 25 Mei 2026 - 15:41 WIB
Musyrif Dini Haji Indonesia 2026 Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengimbau jamaah haji untuk mempersiapkan diri secara optimal menghadapi puncak ibadah haji. Foto/Kemenhaj
MAKKAH - Musyrif Dini Haji Indonesia 2026 Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengimbau para jamaah haji untuk mempersiapkan diri secara optimal menghadapi puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah yang akan dilaksanakan pada 9 Zulhijah.

"Wukuf di Arafah adalah rukun utama dalam ibadah haji. Tanpa kehadiran fisik di Arafah pada tanggal tersebut, ibadah haji tidak sah. Karena itu, perlu kesiapan fisik dan mental yang matang," ujar Kiai Asrorun Niam, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Puncak Haji 2026, Jemaah Bergerak ke Padang Arafah Senin Besok

Ia menjelaskan bahwa hari ini, 8 Zulhijah, jamaah akan mulai bergerak secara bertahap menuju Arafah. Kementerian Haji telah mengatur keberangkatan secara berangsur agar semua jamaah dapat tiba tepat waktu tanpa ada yang tertinggal.

Di Arafah, lanjutnya, para jamaah diimbau memperbanyak amalan seperti doa, zikir, salawat, salat sunah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan muhasabah diri.

"Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama," jelasnya.

Baca juga: Penasaran dengan Isi Kakbah? Simak Penjelasannya di Sini!

Setelah wukuf di Arafah, jamaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit, kemudian bergerak ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah Aqabah dan mabit selama dua atau tiga hari disertai degan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah.

Secara khusus Kyai Niam menyampaikan apresiasi atas perbaikan skema pergerakan jamaah haji pasca Arafah, yang sejalan dengan prinsip syariah, mempertimbangkan menjaga agama (hifzhud din) dan menjaga jiwa (hifzhun nafs). “Pergerakan jamaah dari Arafah dikelompokkan menjadi 3; jamaah yang bergerak dari Arafah jam 19 menuju Muzdalifah, akan turun dan berada di Muzdalifah hingga tengah malam untuk mabit setelah itu bergerak ke Mina naik bus. Kedua, jamaah yang bergerak dari Mina jam 23 dan sampai Muzdalifah sudah lewat tengah malam, maka mabit di Muzdalifah di atas bus lanjut ke Mina. Ketiga, jamaah yang ada udzur syari, seperti kondsi sakit, bergerak dari Arafah langsung ke Mina. Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yag tetap berada dalam koridor ketentuan syariah”, ujar Guru Besar Bidang Fikih ini.

Skema ini merupakan perbaikan yang dilakukan Musyrif Dini atas praktek sebelumnya.

Di samping itu, Kiai Asrorun Niam juga mengingatkan jamaah terkait waktu pelemparan jumrah di hari tasyriq dengan mengikuti ketentuan syariat. Ia menegaskan bahwa waktu yang sah untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrik dimulai setelah salat Subuh.

"Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jemaah," tegasnya.

Prof Niam mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri demi mengejar keutamaan waktu jika kondisi fisik tidak memungkinkan.

"Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat," jelasnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!