Syarat Istithaah Sukses Tekan Angka Jemaah Haji Indonesia Sakit Pascaarmuzna
Jum'at, 05 Juni 2026 - 15:04 WIB
Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Dani Pramudya mengatakan, syarat istithaah sukses tekan angka jemaah haji Indonesia sakit pascaibadah armuzna. Foto/MCH 2026
MAKKAH - Fenomena lonjakan pasien rawat inap yang biasanya menghantui pascapuncak haji (Armuzna) kini mulai dapat dikendalikan dengan sangat baik. Otoritas kesehatan mencatat kemerosotan jumlah jemaah haji Indonesia yang jatuh sakit jika dikomparasikan dengan grafik rekam medis pada musim operasional tahun lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Dani Pramudya, membeberkan data okupansi ranjang perawatan saat ini hanya menyentuh kisaran 210 pasien. Penurunan kuantitas jemaah yang sakit ini sangat melegakan, mengingat tahun lalu KKHI sempat diserbu oleh lebih dari 300 jemaah.
Dia menegaskan resep utama di balik penurunan statistik ini adalah berkat ketegasan pemerintah menerapkan syarat istithaah (kelayakan medis) sejak dari daerah asal. Jemaah yang terdeteksi tidak layak terbang akibat penyakit bawaan kronis telah lebih dulu diseleksi untuk tidak memaksakan diri.
Baca juga: Fase Puncak Haji di Mina Tuntas, Menhaj Apresiasi Ketertiban Jemaah Haji Indonesia
"Tapi sekarang karena kita perketat istithaahnya ya alhamdulillah (menurun)," tegas Dani Pramudya memberikan penekanan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Aziziyah, Makkah, Jumat (5/6/2026).
Meski angka kesakitan sukses ditekan, ancaman kelelahan fatal pascamelempar jumrah tetap menjadi momok mengerikan bagi jemaah kategori lanjut usia. Otot dan sendi jemaah yang sudah dipaksa berjalan puluhan kilometer di bawah sengatan matahari Arab Saudi akhirnya mengalami titik kolaps.
"Faktor pertama memang karena kelelahan pascaibadah di Armuzna, itu memang paling banyak kasusnya karena kelelahan," ucap Dani menganalisis akar masalahnya.
Lihat video: Musim Haji 2026 Selesai, Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia Pulang ke RI
Ancaman ini semakin mematikan apabila kelelahan fisik tersebut bersinggungan langsung dengan riwayat komorbid seperti diabetes dan darah tinggi. Jemaah dengan kadar gula darah tidak terkontrol bahkan mengalami mati rasa pada bagian tubuh perifer, seperti kedua belah telapak kaki.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Dani Pramudya, membeberkan data okupansi ranjang perawatan saat ini hanya menyentuh kisaran 210 pasien. Penurunan kuantitas jemaah yang sakit ini sangat melegakan, mengingat tahun lalu KKHI sempat diserbu oleh lebih dari 300 jemaah.
Dia menegaskan resep utama di balik penurunan statistik ini adalah berkat ketegasan pemerintah menerapkan syarat istithaah (kelayakan medis) sejak dari daerah asal. Jemaah yang terdeteksi tidak layak terbang akibat penyakit bawaan kronis telah lebih dulu diseleksi untuk tidak memaksakan diri.
Baca juga: Fase Puncak Haji di Mina Tuntas, Menhaj Apresiasi Ketertiban Jemaah Haji Indonesia
"Tapi sekarang karena kita perketat istithaahnya ya alhamdulillah (menurun)," tegas Dani Pramudya memberikan penekanan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Aziziyah, Makkah, Jumat (5/6/2026).
Meski angka kesakitan sukses ditekan, ancaman kelelahan fatal pascamelempar jumrah tetap menjadi momok mengerikan bagi jemaah kategori lanjut usia. Otot dan sendi jemaah yang sudah dipaksa berjalan puluhan kilometer di bawah sengatan matahari Arab Saudi akhirnya mengalami titik kolaps.
"Faktor pertama memang karena kelelahan pascaibadah di Armuzna, itu memang paling banyak kasusnya karena kelelahan," ucap Dani menganalisis akar masalahnya.
Lihat video: Musim Haji 2026 Selesai, Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia Pulang ke RI
Ancaman ini semakin mematikan apabila kelelahan fisik tersebut bersinggungan langsung dengan riwayat komorbid seperti diabetes dan darah tinggi. Jemaah dengan kadar gula darah tidak terkontrol bahkan mengalami mati rasa pada bagian tubuh perifer, seperti kedua belah telapak kaki.
Lihat Juga :