Sejarah Rashdul Kiblat: Metode Penentuan Arah Kiblat Warisan Abu Rahyan Al-Biruni

Jum'at, 17 Juli 2026 - 11:34 WIB
Sekitar tahun 1000 M, Al-Biruni melakukan perhitungan ilmiah mengenai arah kiblat berdasarkan posisi Matahari ketika berada tepat di atas Kakbah. Foto ilustrasi/ist
Rashdul Kiblat merupakan salah satu metode paling akurat untuk memverifikasi arah kiblat dengan memanfaatkan posisi Matahari ketika tepat berada di atas Kakbah. Metode astronomi Islam ini telah dikenal sejak berabad-abad lalu dan menjadi warisan penting para ilmuwan Muslim dalam bidang falak (astronomi).

Sejarah Rashdul Kiblat berawal dari pemikiran ilmuwan Muslim terkemuka, Abu Rayhan Al-Biruni, seorang ahli astronomi, matematika, dan geografi yang hidup sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi. Sekitar tahun 1000 M, Al-Biruni melakukan perhitungan ilmiah mengenai arah kiblat berdasarkan posisi Matahari ketika berada tepat di atas Kakbah.

Melalui kajian astronominya, Al-Biruni menjelaskan bahwa saat Matahari berada di titik zenit Kakbah, bayangan benda tegak lurus di berbagai wilayah yang masih berada dalam jangkauan penyinaran Matahari akan menunjukkan arah yang berlawanan dengan kiblat. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar metode penentuan arah kiblat yang dikenal sebagai Rashdul Kiblat.

Pemikiran Al-Biruni kemudian diperkuat oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim sesudahnya, di antaranya Al-Khazin dan Nasir al-Din al-Tusi, yang turut mengembangkan ilmu astronomi dan matematika untuk menyempurnakan perhitungan arah kiblat.

Baca juga: Rashdul Qiblat, Cara Paling Akurat Meluruskan Arah Kiblat yang Memadukan Sains dan Syariat

Cara Memverifikasi Arah Kiblat

Rashdul Kiblat menjadi metode yang mudah sekaligus akurat untuk mengoreksi arah kiblat masjid maupun rumah. Selain memanfaatkan fenomena Matahari tepat di atas Ka'bah, verifikasi arah kiblat juga dapat dilakukan menggunakan beberapa alat, antara lain:

1. Kompas yang telah dikoreksi dengan deklinasi magnet.

2. Theodolite untuk pengukuran arah secara presisi.

3. Metode Rashdul Kiblat saat fenomena Istiwa A'zam berlangsung.

Karena menggunakan posisi Matahari sebagai acuan astronomis, metode Rashdul Kiblat dinilai memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, momen Matahari tepat berada di atas Ka'bah selalu dimanfaatkan oleh para ahli falak, pengelola masjid, dan masyarakat untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat sebelum digunakan dalam ibadah sehari-hari.

Baca juga: 3 Amalan Bulan Safar 1448 Hijriyah yang Jangan Dilewatkan, Pahalanya Berlipat-lipat
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!