Khotbah Jumat Pertama Bulan Safar : Bulan Penuh Kebaikan, Bukan Kesialan
Jum'at, 17 Juli 2026 - 05:15 WIB
loading...
Bulan Safar sering disebut sebagai bulan penuh kesialan, padahal dalam Islam bulan kedua dalam kalender hijriyah ini penuh dengan kebaikan dan hikmah. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Khotbah Jumat kali ini menangkat tema bulan Safar dan meluruskan pandangan negatif dan sikap pesimis terhadap bulan ini. Hari ini bertepatan 2 Safar 1448 Hijriyah, Jumat 17 Juli 2026.
Berikut teks khotbah Jumat bulan Safar disampaikan KH Muqorrobin, Wakil Katib PCNU Ponorogo dan Ketua Bidang Peribadatan Masjid NU Ponorogo Jawa Timur, dilansir dari laman NU Ponorogo.
Jamaah salat Jumat hafidhakumullah!
Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjahui larangan-larangan-Nya. Saat ini kita berada di bulan Safar, bulan kedua tahun Hijriyah.
Nama Safar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu yang bermakna kosong. Dinamakan demikian karena di bulan tersebut masyarakat Arab kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, untuk berperang ataupun menjadi musafir.
Para ulama menyebutkan nama bulan Safar sebagai Shafar al-Khoir yakni bulan Safar yang penuh dengan kebaikan sebagai bentuk optimisme mengambil nilai-nilai positif dengan menyandangkan nama kebaikan bersanding dengan bulan Safar
Pada zaman jahiliyah, berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasya'um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang. Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu membawa hoki alias keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung sebaliknya.
Baca juga: Hak Asuh Anak setelah Perceraian dalam Islam, Kapan Anak Boleh Memilih Ayah atau Ibunya?
Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, yakni semata-mata atas kehendak Allah, bukan karena bulan Shafar itu sendiri.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Berikut teks khotbah Jumat bulan Safar disampaikan KH Muqorrobin, Wakil Katib PCNU Ponorogo dan Ketua Bidang Peribadatan Masjid NU Ponorogo Jawa Timur, dilansir dari laman NU Ponorogo.
Khotbah Pertama
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ. اَلْحَلَيْمِ السَّتَّارِ. اَالْمُتَفَضِّلِ بِالْعَطَاءِ الْمِدْرَارِ. اَالنَّافِذِ قَضَائُهُ بِمَا تَجْرِى فِيْهِ الْأَقْدَارُ. يُدْنِى وَيُبْعِدُ وَيُشْقِى وَيُسْعِدُ وَيُهْبِطُ وَيُصْعِدُ. وَرَبُّكُ يَخْلُقُ مَا يَشَاَءُ وَيَخْتَارُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ مُكَوِّرُ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهَ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى كَشَفَ الْكُرُوْبَ وَالْأَضْرَارَ. وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ مَا طَلَعَ فَجْرٌ وَاسْتَنَارَ.
أمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ, فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى كَشَفَ الْكُرُوْبَ وَالْأَضْرَارَ. وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ مَا طَلَعَ فَجْرٌ وَاسْتَنَارَ.
أمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ, فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى
Jamaah salat Jumat hafidhakumullah!
Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjahui larangan-larangan-Nya. Saat ini kita berada di bulan Safar, bulan kedua tahun Hijriyah.
Nama Safar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu yang bermakna kosong. Dinamakan demikian karena di bulan tersebut masyarakat Arab kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, untuk berperang ataupun menjadi musafir.
Para ulama menyebutkan nama bulan Safar sebagai Shafar al-Khoir yakni bulan Safar yang penuh dengan kebaikan sebagai bentuk optimisme mengambil nilai-nilai positif dengan menyandangkan nama kebaikan bersanding dengan bulan Safar
Pada zaman jahiliyah, berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasya'um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang. Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu membawa hoki alias keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung sebaliknya.
Baca juga: Hak Asuh Anak setelah Perceraian dalam Islam, Kapan Anak Boleh Memilih Ayah atau Ibunya?
Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, yakni semata-mata atas kehendak Allah, bukan karena bulan Shafar itu sendiri.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. (رواه البخاري ومسلم)
Lihat Juga :