Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib

Selasa, 28 Juli 2026 - 05:15 WIB
Namun, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang bagaimana suami, istri, bahkan orang tua atau mertua bersikap ketika menghadapi perselisihan agar masalah tidak berkembang menjadi perpecahan. Foto ilustrasi/ist
Konflik dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar dan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk keluarga terbaik dalam sejarah Islam. Namun, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas tentang bagaimana suami, istri, bahkan orang tua atau mertua bersikap ketika menghadapi perselisihan agar masalah tidak berkembang menjadi perpecahan.

Salah satu teladan terbaik dapat ditemukan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.

Ia menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang mengunjungi rumah putrinya, Fatimah Az-Zahra. Namun, beliau tidak mendapati Ali bin Abi Thalib berada di rumah.

Rasulullah bertanya, "Mana putra pamanmu?"

Fatimah menjawab bahwa telah terjadi perselisihan di antara mereka sehingga Ali marah dan memilih keluar rumah.

Baca juga: Soal Waktu : Benarkah Sehari di Akhirat Sama dengan 1.000 Tahun di Dunia?

Beliau kemudian meminta seseorang mencari Ali. Ternyata Ali sedang tidur di masjid dengan punggung yang dipenuhi debu. Rasulullah mendatanginya, mengusap debu di punggung Ali sambil bercanda,

"Bangunlah wahai Abu Turab. Bangunlah wahai Abu Turab." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mertua Tidak Memperkeruh Keadaan

Hadis ini mengandung banyak pelajaran tentang cara menyelesaikan konflik rumah tangga.

Pertama, Rasulullah tidak datang untuk menghakimi ataupun mencari siapa yang salah. Beliau hanya memastikan keadaan putri dan menantunya baik-baik saja.

Yang menarik, Rasulullah juga tidak menggunakan kalimat yang dapat memperbesar emosi Fatimah. Beliau tidak bertanya, "Mana suamimu?" tetapi menggunakan ungkapan, "Mana putra pamanmu?"

Pilihan kata tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah ingin mengingatkan Fatimah bahwa Ali bukan hanya seorang suami, tetapi juga kerabat yang memiliki hak untuk dihormati. Cara ini menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan agar orang tua menjadi penyejuk ketika anak mengalami konflik rumah tangga, bukan justru memperkeruh keadaan.

Menjaga Aib Rumah Tangganya

Sikap Fatimah juga menjadi pelajaran berharga bagi setiap istri. Meski ayahnya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Fatimah tidak menceritakan secara rinci penyebab pertengkarannya. Ia hanya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu di antara dirinya dan Ali.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!